<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Dakwah Al-Haq Dengan Hikmah</title>
	<atom:link href="http://dakwahhikmah.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://dakwahhikmah.wordpress.com</link>
	<description>Upaya Meniti Jejak Generasi As-Salafush Shalih</description>
	<lastBuildDate>Wed, 25 Jan 2012 14:13:15 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='dakwahhikmah.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://0.gravatar.com/blavatar/ae1e346ed609f19d2504389e3abf98a9?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>Dakwah Al-Haq Dengan Hikmah</title>
		<link>http://dakwahhikmah.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://dakwahhikmah.wordpress.com/osd.xml" title="Dakwah Al-Haq Dengan Hikmah" />
	<atom:link rel='hub' href='http://dakwahhikmah.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>MAKNA LAA ILAAHA ILLALLAH (لاَ إِلهَ إِلاَّ الله)</title>
		<link>http://dakwahhikmah.wordpress.com/2012/01/23/makna-laa-ilaaha-illallah-%d9%84%d8%a7%d9%8e-%d8%a5%d9%90%d9%84%d9%87%d9%8e-%d8%a5%d9%90%d9%84%d8%a7%d9%91%d9%8e-%d8%a7%d9%84%d9%84%d9%87/</link>
		<comments>http://dakwahhikmah.wordpress.com/2012/01/23/makna-laa-ilaaha-illallah-%d9%84%d8%a7%d9%8e-%d8%a5%d9%90%d9%84%d9%87%d9%8e-%d8%a5%d9%90%d9%84%d8%a7%d9%91%d9%8e-%d8%a7%d9%84%d9%84%d9%87/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Jan 2012 10:37:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dakwah Hikmah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dakwahhikmah.wordpress.com/?p=157</guid>
		<description><![CDATA[            لاَ إِلهَ إلاَّ الله merupakan kalimat yang sangat akrab dengan kita, bahkan kalimat inilah yang kita jadikan sebagai panji tauhid dan identitas keislaman. Kalimat ini sangat mudah diucapkan, namun menuntut adanya sebuah konsekuensi yang amat besar. Oleh karena itu, Allah gelari kalimat ini sebagai “Al ‘Urwatul Wutsqo” (buhul tali yang amat kuat yang tidak &#8230; <a href="http://dakwahhikmah.wordpress.com/2012/01/23/makna-laa-ilaaha-illallah-%d9%84%d8%a7%d9%8e-%d8%a5%d9%90%d9%84%d9%87%d9%8e-%d8%a5%d9%90%d9%84%d8%a7%d9%91%d9%8e-%d8%a7%d9%84%d9%84%d9%87/">Continue reading <span class="meta-nav">&#187;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dakwahhikmah.wordpress.com&amp;blog=3424333&amp;post=157&amp;subd=dakwahhikmah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">            <strong>لاَ إِلهَ إلاَّ الله</strong> merupakan kalimat yang sangat akrab dengan kita, bahkan kalimat inilah yang kita jadikan sebagai panji tauhid dan identitas keislaman. Kalimat ini sangat mudah diucapkan, namun menuntut adanya sebuah konsekuensi yang amat besar. Oleh karena itu, Allah gelari kalimat ini sebagai “<em>Al ‘Urwatul Wutsqo</em>” (buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus), sebagaimana dalam firman-Nya:<span id="more-157"></span></p>
<p style="text-align:right;" dir="RTL">{فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لَا انْفِصَامَ لَهَا وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ} [البقرة: 256]</p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut (segala apa yang diibadahi selain Allah) dan beriman kepada Allah, <strong>maka sungguh ia telah berpegang kepada Al ‘Urwatul Wutsqo (buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus)</strong>. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”</em> (QS. Al Baqarah: 256)</p>
<p style="text-align:justify;">            Memahami makna <strong>لاَ إِلهَ إِلاَّ الله</strong>    merupakan perkara yang diwajibkan oleh Allah atas setiap muslim, sebagaimana dalam firman-Nya:</p>
<p style="text-align:right;" dir="RTL">{فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ} [محمد: 19]</p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Maka ketahuilah (ilmuilah) bahwa sesungguhnya tidak ada ilah yang berhak di ibadahi melainkan Allah.”</em> (QS. Muhammad: 19)</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Al-Imam Al-Biqo’i berkata: “Sesungguhnya ilmu tentang (kalimat) ‘Laa ilaaha illallah’ (لاَ إِلهَ إِلاَّ الله) ini merupakan ilmu yang paling agung yang dapat menyelamatkan dari kengerian di hari kiamat.</p>
<p style="text-align:justify;">            <strong>لاَ إِلهَ إِلاَّ الله</strong> bila ditinjau secara harfiah bermakna:</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>-   </strong><strong>لاَ</strong> (Laa)     : Tidak ada, atau tiada</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>-   </strong><strong>إله</strong><strong> </strong>(Ilaaha) :  <strong>اَلإلَه</strong><strong>ُ</strong>  adalah sesuatu yang hati ini rela untuk beribadah kepada-Nya dengan penuh kecintaan, pemujaan, kepasrahan, pemuliaan, pengagungan, pengabdian, perendahan diri, rasa takut dan harapan, serta penyerahan diri.</p>
<p style="text-align:justify;"> Jadi <em>ilah </em>maknanya adalah sesuatu yang diibadahi, atau dengan kata lain <strong><em>ilah </em>bermakna <em>ma&#8217;bud </em>(sesuatu yang diibadahi)</strong></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>-   </strong><strong>إلاَّ</strong><strong> </strong> (illa)   : Kecuali, atau melainkan</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>-   </strong><strong>الله</strong><strong> </strong>(Allah)   : Ibnu Abbas berkata: Allah, Dialah yang mempunyai hak <em>uluhiyyah </em>(hak sebagai <em>ilah</em>) dan hak untuk diibadah atas seluruh makhluk-Nya.</p>
<p style="text-align:justify;">             Adapun bila ditinjau dari rangkaian kata secara utuh, maka maknanya adalah</p>
<p style="text-align:center;" align="center"> <strong>لاَ مَعْبُوْدَ بِحَقٍّ إِلاَّ الله</strong></p>
<p style="text-align:center;" align="center">“Tiada <em>ilah</em> yang berhak diibadahi melainkan Allah semata.</p>
<p align="center">
<p style="text-align:justify;"><strong>لاَإِلهَ</strong> sebagai <em>nafyu</em> (peniadaan) atas segala apa yang diibadahi selain Allah,</p>
<p style="text-align:justify;"> <strong>إِلاَّ الله</strong>  sebagai <em>itsbat </em>(penetapan) bahwa seluruh ibadah hanyalah milik Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya dalam hal ibadah ini, sebagaimana tiada sekutu bagi-Nya dalam hal kekuasaan.”</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">            Dari penjelasan di atas ada suatu permasalahan yang menarik untuk dibahas, yaitu: yang berkaitan dengan makna <strong>لاَ إِلهَ إِلاَّ الله</strong>  itu sendiri, dimana   muncul   suatu tanda tanya:</p>
<p style="text-align:justify;"> Mengapa tidak dimaknakan dengan</p>
<p style="text-align:justify;" align="center"> <strong>لاَ</strong><strong> </strong><strong>إِلهَ</strong><strong> مَوْجُوْدٌ </strong><strong>إلاَّ الله</strong>  “Tiada <em>ilah </em>yang ada melainkan Allah?”</p>
<p style="text-align:justify;" align="center">atau <strong>لاَ خَالِقَ إلاَّ الله  </strong>“Tiada Pencipta melainkan Allah?”</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"> Adapun yang pertama, mengapa tidak dimaknakan dengan</p>
<p style="text-align:justify;" align="center"><strong>لاَ</strong><strong> </strong><strong>إِلهَ</strong><strong> مَوْجُوْدٌ </strong><strong>إلاَّ الله</strong>  “Tiada <em>ilah </em>yang ada melainkan Allah?”</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Maka jawabnya adalah, karena di alam semesta ini banyak benda/makhluk yang diibadahi selain Allah, seperti pohon, batu, manusia dan lain sebagainya. Itu semua disebut sebagai <em>ilah</em>. Sehingga secara fakta <em>ilah </em>lain selain Allah itu ada, <strong>namun itu batil, yakni mereka tidak berhak dijadikan <em>ilah</em>, mereka dijadikan <em>ilah </em>dengan cara yang batil</strong>. Maka segala sesuatu selain Allah yang diibadahi (dijadikan <em>ilah</em>) adalah batil. <strong>Adapun yang berhak dijadikan <em>ilah </em>adalah Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala </em>satu-satu-Nya tidak ada sekutu bagi-Nya.</strong></p>
<p style="text-align:justify;"> Oleh karena itu Allah <em>Ta&#8217;ala </em>berfirman:</p>
<p style="text-align:right;" dir="RTL">{ ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ هُوَ الْبَاطِلُ وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِير} [الحج: 62] <em></em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Demikianlah, karena sesungguhnya Allah, <strong>Dialah yang haq</strong> (Ilah yang sebenarnya, yang wajib diibadahi), dan sesungguhnya apa saja selain Allah yang mereka seru (ibadahi) <strong>itulah yang batil</strong>, dan sesungguhnya Allah, Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.” </em>(Q.S. Al-Hajj : 62)</p>
<p style="text-align:justify;"> Maka meninjau dari pengertian di atas, maka tidak tepat jika <strong>لاَ إِلهَ إِلاَّ الله</strong>  dimaknakan</p>
<p style="text-align:justify;" align="center"> <strong>لاَ</strong><strong> </strong><strong>إِلهَ</strong><strong> مَوْجُوْدٌ </strong><strong>إلاَّ الله</strong>  “Tiada <em>ilah </em>yang ada melainkan Allah?”</p>
<p style="text-align:justify;">Karena faktanya <em>ilah </em>lain selain Allah itu ada, <strong>namun mereka itu batil</strong>. Oleh karena itu makna yang tepat adalah :</p>
<p style="text-align:justify;" align="center"><strong>لاَ مَعْبُوْدَ بِحَقٍّ إِلاَّ الله</strong></p>
<p style="text-align:justify;" align="center">“Tiada <em>ilah</em> yang berhak diibadahi melainkan Allah semata.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"> Tidak pula dimaknakan dengan          <strong> </strong><strong>لاَ خَالِقَ إلاَّ الله</strong>  “Tiada pencipta melainkan Allah”,</p>
<p style="text-align:justify;"> Memang benar, bahwa tiada Pencipta kecuali hanya Allah saja. Ini keyakinan yang wajib diimani oleh seorang muslim. Namun menjadikan “Tiada pencipta melainkan Allah” sebagai makna <em>lailaha illallah </em>adalah tidak tepat.</p>
<p style="text-align:justify;"> Karena makna <strong>إله</strong> dalam syahadat <strong>لاَ إِلهَ إِلاَّ الله</strong> ini bermakna <strong>مَأْلُوْهٌ</strong> yang artinya <strong>مَعْبُوْدٌ</strong>  (yang diibadahi), bukan Pencipta, sebagaimana yang telah lalu dari penjelasan para ulama.</p>
<p style="text-align:justify;"> Bahkan Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala </em> telah menyebutkannya dalam banyak ayat-Nya bahwa makna <em>ilah </em>adalah <em>ma&#8217;bud </em>(yang berhak diibadahi), seperti firman-Nya :</p>
<p style="text-align:right;" dir="RTL"> {أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا اللَّهَ} [هود: 2]</p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Agar kalian tidak beribadah kecuali kepada Allah.”</em> (Q.S. Huud:2)</p>
<p style="text-align:justify;"> Perhatikan, Allah menafsirkan <em>lailaha illallah</em>, dengan tidak beribadah kecuali kepada Allah. Maka dari sini kita memahami dua hal</p>
<p style="text-align:justify;">- <em>ilah </em>bermakna <em>ma&#8217;bud </em>(yang diibadahi)</p>
<p style="text-align:justify;">- Kalimat <em>lailaha illallah </em>adalah meniadakan peribadatan kepada selain Allah, dan menetapkan peribadatan hanya kepada Allah saja. Jadi tidak benar jika <em>lailaha illallah</em> dimaknakan dengan “Tiada pencipta melainkan Allah”.</p>
<p style="text-align:justify;"> Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala </em>juga berfirman :</p>
<p style="text-align:right;" dir="RTL">{وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ لِأَبِيهِ وَقَوْمِهِ إِنَّنِي بَرَاءٌ مِمَّا تَعْبُدُونَ (26) إِلَّا الَّذِي فَطَرَنِي فَإِنَّهُ سَيَهْدِينِ (27)} [الزخرف: 26، 27]</p>
<p style="text-align:justify;">“Sesungguhnya aku (Ibrohim) berlepas diri dari apa yang kalian ibadahi kecuali Dzat yang telah menciptakanku (Allah).” (Q.S. Az Zukhruf: 26-27)</p>
<p style="text-align:justify;"> Perhatikan, pada ayat di atas Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala menjadikan sikap Nabi Ibrohim &#8216;alaihis salam sebagai bentuk realisasi kalimat tauhid lailaha illallah, yaitu sikap berlepas diri dari segala sesuatu yang diibadahi selain Allah, dan menetapkan hak ibadah tersebut hanya untuk Allah semata. Jadi tidak benar jika lailaha illallah dimaknakan dengan “Tiada pencipta melainkan Allah”</p>
<p style="text-align:justify;"> Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala juga berfirman :</p>
<p style="text-align:right;" dir="RTL">{أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا اللَّهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا} [آل عمران: 64]</p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Agar kita tidak beribadah kecuali hanya kepada Allah, dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatupun</em>.” (Q.S. Ali Imron: 64)</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Sekali lagi, makna <em>lailaha illallah </em>adalah <em>tidak beribadah kecuali hanya kepada Allah, dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatupun</em>. Maka tidak benar jika <em>lailaha illallah</em> dimaknakan dengan “Tiada pencipta melainkan Allah”</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Ayat-ayat di atas merupakan tafsiran dari kalimat <strong>لاَ إِلهَ إِلاَّ الله</strong> dan terkhusus lafadz <strong>إله</strong> yang darinya diketahui bahwa ia bermakna: <strong>مَعْبُوْدٌ</strong> “yang diibadahi” bukan bermakna “Pencipta”.</p>
<p style="text-align:justify;"> Kemudian, bila kita tinjau keadaan orang-orang musyrik Quraisy yang saat itu enggan bahkan menentang untuk mengucapkan <strong>لاَ إِلهَ إِلاَّ الله</strong> niscaya kita mendapati bahwa mereka telah berikrar bahwa Allahlah yang menciptakan mereka. Allah U berfirman:</p>
<p style="text-align:right;" dir="RTL">{وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَهُمْ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ} [الزخرف: 87]</p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Dan sesungguhnya jika kamu bertanya kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan mereka? Niscaya mereka menjawab: “Allah.”</em> (Q.S. Az Zukhruf: 87)</p>
<p style="text-align:justify;"> Kalau seandainya yang dimaukan dari kalimat  <strong>لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ</strong>  tersebut suatu ikrar bahwa Allah adalah pencipta, maka tentunya tidak akan ada permusuhan antara mereka dengan Rasulullah shallallahu &#8216;alahi wa sallam , dan tidak akan pula mereka dinyatakan sebagai orang-orang musyrik.</p>
<p style="text-align:justify;">Namun disaat kalimat tauhid ini berkonsekuensi untuk meninggalkan segala bentuk peribadatan kepada selain Allah, dan menjadikan Allah sebagai satu-satunya Dzat yang diibadahi, maka terjadilah apa yang terjadi antara Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alahi wa sallam </em>dengan kaum Quraisy, bahkan antara para rasul sebelumnya dengan kaum mereka masing-masing. Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala </em> berfirman :</p>
<p style="text-align:right;" dir="RTL">{إِنَّهُمْ كَانُوا إِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ يَسْتَكْبِرُونَ (35) وَيَقُولُونَ أَئِنَّا لَتَارِكُوا آَلِهَتِنَا لِشَاعِرٍ مَجْنُونٍ (36)} [الصافات: 35، 36]</p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan (kepada mereka):</em><em> </em><strong>لاَ إِلهَ إِلاَّ الله</strong><strong> </strong><em>(tiada ilah yang berhak diibadahi melainkan Allah) mereka menyombongkan diri dan mereka berkata: “Apakah kami harus meninggalkan ilah-ilah (sesembahan-sesembahan) kami karena seorang penyair gila?”</em> (Q.S. Ash Shooffaat: 35-36)</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Dia juga berfirman (tentang ucapan orang-orang kafir):</p>
<p style="text-align:right;" dir="RTL">{ أَجَعَلَ الْآَلِهَةَ إِلَهًا وَاحِدًا إِنَّ هَذَا لَشَيْءٌ عُجَابٌ} [ص: 5]</p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Mengapa ia (Rasul) menjadikan ilah-ilah (sesembahan-sesembahan) yang banyak itu menjadi satu ilah saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan.”</em> (Q.S. Shaad: 5)</p>
<p style="text-align:justify;"> Yakni kaum musyrikin Quraisy tidak setuju dengan dakwah Nabi Muhammad <em>shallallahu &#8216;alahi wa sallam </em>untuk meninggalkan <em>ilah-ilah </em>yang banyak, yaitu batu, pohon, kuburan, berhala, para wali yang mereka jadikan <em>ilah </em>(mereka ibadahi) – yang jumlah <em>ilah </em>mereka sangat banyak<em> </em>–<em> </em>maka itu semua harus ditinggalkan, dan hanya beribadah kepada satu <em>ilah </em>saja, yaitu Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em>.</p>
<p style="text-align:justify;"> Kaum Quraisy enggan dan menolak makna ini, sementara kaum mukminin yang beriman kepada menerima sepenuhnya makna ini. Maka kaum Quraisy adalah musyrikin dan kafir, dan kaum mukminin adalah para <em>muslimin </em>sekaligus <em>muwahhidin </em>(orang-orang yang tunduk patuh kepada Allah dengan bertauhid kepada-Nya).</p>
<p style="text-align:justify;"> Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala </em>berfirman :</p>
<p style="text-align:right;" dir="RTL">{وَمَنْ أَحْسَنُ دِينًا مِمَّنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ وَاتَّبَعَ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا} [النساء: 125]</p>
<p style="text-align:justify;"><em>&#8220;Siapakah yang lebih baik agama-Nya daripada orang-orang yang berislam (menyerahkan) wajahnya hanya kepada Allah, dan mereka itu berbuat ihsan (mengikuti Rasulullah dalam amalnya) dan mengikuti millah Ibrahim yang lurus.&#8221;</em> (An-Nisa&#8217; : 125)</p>
<p style="text-align:justify;"> Dari sini jelaslah bahwa makna syahadat <strong>لاَ إِلهَ إِلاَّ الله</strong>  adalah <strong>لاَ مَعْبُوْدَ بِحَقٍّ إِلاَّ الله</strong>  , tidak selainnya.</p>
<p style="text-align:justify;"> Demikianlah penjelasan dari kami seputar makna <strong>لاَ إِلهَ إِلاَّ الله</strong> , semoga bahasan yang relatif singkat ini dapat membantu kita semua di dalam memahami kalimat <strong>لاَ إِلهَ إِلاَّ الله</strong> sesuai dengan apa yang dimaukan oleh Allah dan Rasul-Nya<strong>.</strong></p>
<p style="text-align:justify;">MUTIARA HADITS SHAHIH</p>
<p style="text-align:justify;">Abu Hurairah <em>radhiyallahu &#8216;anhu </em> bertanya kepada Rasulullah<em> shallallahu &#8216;alahi wa sallam</em>, siapakah yang paling bahagia untuk mendapatkan syafa’atmu?</p>
<p style="text-align:justify;">Beliau <em>shallallahu &#8216;alahi wa sallam </em> menjawab:</p>
<p style="text-align:justify;" dir="RTL"><strong>مَنْ قَالَ : لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله خَالِصًا مِنْ قَلْبِهِ</strong><strong> </strong><strong></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><em>“ (yaitu): Barangsiapa yang mengucapkan kalimat </em><strong>لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله</strong><strong> </strong><em>dalam keadaan ikhlash (bersih dari berbagai kesyirikan) keluar dari lubuk hatinya. </em>(H.R Al Bukhari dan yang lainnya)</p>
<br />Filed under: <a href='http://dakwahhikmah.wordpress.com/category/aqidah/'>Aqidah</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dakwahhikmah.wordpress.com/157/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dakwahhikmah.wordpress.com/157/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dakwahhikmah.wordpress.com/157/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dakwahhikmah.wordpress.com/157/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dakwahhikmah.wordpress.com/157/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dakwahhikmah.wordpress.com/157/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dakwahhikmah.wordpress.com/157/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dakwahhikmah.wordpress.com/157/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dakwahhikmah.wordpress.com/157/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dakwahhikmah.wordpress.com/157/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dakwahhikmah.wordpress.com/157/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dakwahhikmah.wordpress.com/157/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dakwahhikmah.wordpress.com/157/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dakwahhikmah.wordpress.com/157/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dakwahhikmah.wordpress.com&amp;blog=3424333&amp;post=157&amp;subd=dakwahhikmah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dakwahhikmah.wordpress.com/2012/01/23/makna-laa-ilaaha-illallah-%d9%84%d8%a7%d9%8e-%d8%a5%d9%90%d9%84%d9%87%d9%8e-%d8%a5%d9%90%d9%84%d8%a7%d9%91%d9%8e-%d8%a7%d9%84%d9%84%d9%87/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1d1cf41d60cc8597df8834fb87f9edad?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dakwahhikmah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Silaturrahim Kepada Kerabat Non Muslim</title>
		<link>http://dakwahhikmah.wordpress.com/2012/01/02/silaturrahim-kepada-kerabat-non-muslim/</link>
		<comments>http://dakwahhikmah.wordpress.com/2012/01/02/silaturrahim-kepada-kerabat-non-muslim/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Jan 2012 13:21:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dakwah Hikmah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[akhlaq]]></category>
		<category><![CDATA[aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[sunnah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dakwahhikmah.wordpress.com/?p=152</guid>
		<description><![CDATA[Allah Ta&#8217;ala telah berfirman: “Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (Al-Mumtahanah: 8) ‘Allamatul Qashim Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di t menjelaskan: “Artinya, Allah l tidak melarang kalian dari kebaikan, silaturahim, &#8230; <a href="http://dakwahhikmah.wordpress.com/2012/01/02/silaturrahim-kepada-kerabat-non-muslim/">Continue reading <span class="meta-nav">&#187;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dakwahhikmah.wordpress.com&amp;blog=3424333&amp;post=152&amp;subd=dakwahhikmah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="JUSTIFY">Allah Ta&#8217;ala telah berfirman:</p>
<p align="JUSTIFY">“Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (Al-Mumtahanah: 8)</p>
<p align="JUSTIFY">‘Allamatul Qashim Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di t menjelaskan: “Artinya, Allah l tidak melarang kalian dari kebaikan, silaturahim, dan membalas kebaikan serta berlaku adil terhadap kerabat kalian dari kalangan kaum musyrikin atau yang lain. Hal ini bila mereka tidak mengobarkan peperangan dalam agama terhadap kalian, tidak mengusir kalian dari rumah-rumah kalian. Maka tidak mengapa kalian berhubungan baik dengan mereka dalam keadaan seperti ini, tidak ada kekhawatiran dan kerusakan padanya.”</p>
<p align="JUSTIFY"> Abul Fida` Ismail bin Katsir t menafsirkan ayat ini dengan membawakan hadits dari Asma` bintu Abu Bakr Ash-Shiddiq c, dia mengatakan:</p>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family:'DejaVu Sans';"><span style="font-family:Arial;">قَدِمَتْ أُمِّي وَهِيَ مُشْرِكَةٌ فِي عَهْدِ قُرَيْشٍ …</span></span>. <span style="font-family:'DejaVu Sans';"><span style="font-family:Arial;">فَأَتَيْتُ النَّبِيَّ</span> </span>n <span style="font-family:'DejaVu Sans';"><span style="font-family:Arial;">فَقُلْتُ</span></span>: <span style="font-family:'DejaVu Sans';"><span style="font-family:Arial;">يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّ أُمِّي قَدِمَتْ وَهِيَ رَاغِبَةٌ، أَفَأَصِلُهَا؟ قَالَ</span></span>: <span style="font-family:'DejaVu Sans';"><span style="font-family:Arial;">نَعَمْ، صِلِي أُمَّكِ</span></span></p>
<p align="JUSTIFY">“Ibuku datang dalam keadaan masih musyrik, di waktu perjanjian damai yang disepakati orang Quraisy. Maka aku datang kepada Rasulullah n dan bertanya: ‘Wahai Rasulullah, ibuku datang dan ia ingin berbuat baik. Bolehkah aku berbuat baik kepadanya?’ Rasulullah n berkata: ‘Ya, berbuat baiklah kepada ibumu’.” (HR. Ahmad 6/344, Al-Bukhari, Kitabul Adab bab (7) no. 5978 dan 5979, Muslim Kitabuz Zakat (50) no. 2322)</p>
<p align="JUSTIFY">Jadi jelaslah bahwa berbuat baik kepada kerabat adalah suatu hal yang disyariatkan, meskipun dia non-muslim. Dengan syarat, dia bukan orang yang memerangi agama kita, dan tentunya tidak ada loyalitas dalam hati kita terhadap agamanya. Justru kita harapkan dengan sikap dan perilaku kita yang baik kepada orang semacam ini, menjadi sebab datangnya hidayah dalam hati kerabat kita tersebut, sehingga ia masuk Islam dan meninggalkan kekafirannya.</p>
<p align="JUSTIFY">Wallahul hadi ila sawa`is sabil.</p>
<p>&nbsp;</p>
<br />Filed under: <a href='http://dakwahhikmah.wordpress.com/category/akhlak/'>Akhlak</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dakwahhikmah.wordpress.com/152/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dakwahhikmah.wordpress.com/152/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dakwahhikmah.wordpress.com/152/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dakwahhikmah.wordpress.com/152/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dakwahhikmah.wordpress.com/152/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dakwahhikmah.wordpress.com/152/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dakwahhikmah.wordpress.com/152/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dakwahhikmah.wordpress.com/152/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dakwahhikmah.wordpress.com/152/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dakwahhikmah.wordpress.com/152/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dakwahhikmah.wordpress.com/152/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dakwahhikmah.wordpress.com/152/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dakwahhikmah.wordpress.com/152/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dakwahhikmah.wordpress.com/152/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dakwahhikmah.wordpress.com&amp;blog=3424333&amp;post=152&amp;subd=dakwahhikmah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dakwahhikmah.wordpress.com/2012/01/02/silaturrahim-kepada-kerabat-non-muslim/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:thumbnail url="http://dakwahhikmah.files.wordpress.com/2012/01/salaman.jpg?w=150" />
		<media:content url="http://dakwahhikmah.files.wordpress.com/2012/01/salaman.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">salaman</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1d1cf41d60cc8597df8834fb87f9edad?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dakwahhikmah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menyambung Silaturrahim Bukan Hanya Sekedar Membalas</title>
		<link>http://dakwahhikmah.wordpress.com/2011/12/29/menyambung-silaturrahim-bukan-hanya-sekedar-membalas/</link>
		<comments>http://dakwahhikmah.wordpress.com/2011/12/29/menyambung-silaturrahim-bukan-hanya-sekedar-membalas/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Dec 2011 23:08:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dakwah Hikmah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[adab]]></category>
		<category><![CDATA[akhlaq]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[silaturrahim]]></category>
		<category><![CDATA[sunnah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dakwahhikmah.wordpress.com/?p=148</guid>
		<description><![CDATA[Banyak orang yang mengakrabi saudaranya setelah saudaranya mengakrabinya. Mengunjungi saudaranya setelah saudaranya mengunjunginya. Memberikan hadiah setelah ia diberi hadiah, dan seterusnya. Dia hanya membalas kebaikan saudaranya. Sedangkan kepada saudara yang tidak mengunjunginya –misalnya– tidak mau dia berkunjung. Ini belum dikatakan menyambung tali silaturahim yang sebenarnya. Yang disebut menyambung tali silaturahim sebenarnya adalah orang yang menyambung &#8230; <a href="http://dakwahhikmah.wordpress.com/2011/12/29/menyambung-silaturrahim-bukan-hanya-sekedar-membalas/">Continue reading <span class="meta-nav">&#187;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dakwahhikmah.wordpress.com&amp;blog=3424333&amp;post=148&amp;subd=dakwahhikmah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="JUSTIFY">Banyak orang yang mengakrabi saudaranya setelah saudaranya mengakrabinya. Mengunjungi saudaranya setelah saudaranya mengunjunginya. Memberikan hadiah setelah ia diberi hadiah, dan seterusnya. Dia hanya membalas kebaikan saudaranya. Sedangkan kepada saudara yang tidak mengunjunginya –misalnya– tidak mau dia berkunjung. Ini belum dikatakan menyambung tali silaturahim yang sebenarnya. Yang disebut menyambung tali silaturahim sebenarnya adalah orang yang menyambung kembali terhadap orang yang telah memutuskan hubungan kekerabatannya. Hal ini dijelaskan Rasulullah n dalam hadits Abdullah bin ‘Amr c, dari beliau n:</p>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family:'DejaVu Sans';"><span style="font-family:Arial;">لَيْسَ الْوَاصِلُ بِالْمُكَافِئِ وَلَكِنَّ الْوَاصِلَ الَّذِي إِذَا قُطِعَتْ رَحِمُهُ وَصَلَهَا</span></span></p>
<p align="JUSTIFY">“Bukanlah penyambung adalah orang yang hanya membalas. Tetapi penyambung adalah orang yang apabila diputus rahimnya, dia menyambungnya.” {HR. Al-Bukhari, Kitabul Adab bab (15) Laisal Washil bil Mukafi, no. 5991}</p>
<p align="JUSTIFY">Ibnu Hajar t mengatakan: “Peniadaan sambungan tidak pasti menunjukkan adanya pemutusan. Karena mereka ada tiga tingkatan: (1) orang yang menyambung, (2) orang yang membalas, dan (3) orang yang memutuskan. Orang yang menyambung adalah orang yang melakukan hal yang lebih dan tidak diungguli oleh orang lain. Orang yang membalas adalah orang yang tidak menambahi pemberian lebih dari apa yang dia dapatkan. Sedangkan orang yang memutuskan adalah orang yang diberi dan tidak memberi. Sebagaimana terjadi pembalasan dari kedua pihak, maka siapa yang mengawali berarti dialah yang menyambung. Jikalau ia dibalas, maka orang yang membalas dinamakan mukafi` (pembalas). Wallahu a’lam.” (Fathul Bari, 10/427, cet. Dar Rayyan)</p>
<p align="JUSTIFY">Orang yang terus berbuat baik kepada kerabat mereka meskipun mereka berbuat jelek kepadanya, tidak akan rugi sedikit pun. Bahkan akan selalu ditolong oleh Allah l. justru kerabat yang tidak mau membalas kebaikan itulah yang mendapat dosa yang besar akibat perbuatan mereka. Seperti dalam hadits Ibnu Mas’ud z: Ada seseorang berkata kepada Nabi Muhammad n:</p>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family:'DejaVu Sans';"><span style="font-family:Arial;">يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّ لِي قَرَابَةً أَصِلُهُمْ وَيَقْطَعُونِي وَأُحْسِنُ إِلَيْهِمْ وَيُسِيئُونَ إِلَيَّ وَأَحْلِمُ عَنْهُمْ وَيَجْهَلُونَ عَلَيَّ</span></span>. <span style="font-family:'DejaVu Sans';"><span style="font-family:Arial;">فَقَالَ</span></span>: <span style="font-family:'DejaVu Sans';"><span style="font-family:Arial;">لَئِنْ كُنْتَ كَمَا قُلْتَ فَكَأَنَّمَا تُسِفُّهُمُ الْمَلَّ وَلاَ يَزَالُ مَعَكَ مِنَ اللهِ ظَهِيٌر عَلَيْهِمْ مَا دُمْتَ عَلَى ذَلِكَ</span></span></p>
<p align="JUSTIFY">“Wahai Rasulullah, aku mempunyai kerabat dan aku sambung mereka, tetapi mereka memutuskanku. Aku berbuat baik kepada mereka tetapi mereka berbuat jelek terhadapku. Aku bersabar terhadap mereka, tetapi mereka selalu berbuat jahil kepadaku.” Maka Rasulullah n bersabda: “Jika engkau seperti yang engkau katakan, maka seolah-olah engkau melemparkan abu panas ke wajah mereka dan pertolongan Allah tetap bersamamu menghadapi mereka selama engkau seperti itu.” (HR. Muslim, Kitabul Birr wash-Shilah, bab Silaturahim wa tahrimu qathi’atiha, no. 6472)</p>
<br />Filed under: <a href='http://dakwahhikmah.wordpress.com/category/akhlak/'>Akhlak</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dakwahhikmah.wordpress.com/148/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dakwahhikmah.wordpress.com/148/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dakwahhikmah.wordpress.com/148/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dakwahhikmah.wordpress.com/148/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dakwahhikmah.wordpress.com/148/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dakwahhikmah.wordpress.com/148/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dakwahhikmah.wordpress.com/148/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dakwahhikmah.wordpress.com/148/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dakwahhikmah.wordpress.com/148/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dakwahhikmah.wordpress.com/148/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dakwahhikmah.wordpress.com/148/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dakwahhikmah.wordpress.com/148/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dakwahhikmah.wordpress.com/148/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dakwahhikmah.wordpress.com/148/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dakwahhikmah.wordpress.com&amp;blog=3424333&amp;post=148&amp;subd=dakwahhikmah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dakwahhikmah.wordpress.com/2011/12/29/menyambung-silaturrahim-bukan-hanya-sekedar-membalas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:thumbnail url="http://dakwahhikmah.files.wordpress.com/2011/12/hand-shake-love.jpg?w=150" />
		<media:content url="http://dakwahhikmah.files.wordpress.com/2011/12/hand-shake-love.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">hand-shake-love</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1d1cf41d60cc8597df8834fb87f9edad?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dakwahhikmah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Keindahan Islam Semakin Bertambah</title>
		<link>http://dakwahhikmah.wordpress.com/2011/12/29/keindahan-islam-semakin-bertambah/</link>
		<comments>http://dakwahhikmah.wordpress.com/2011/12/29/keindahan-islam-semakin-bertambah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Dec 2011 22:59:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dakwah Hikmah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[sunnah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dakwahhikmah.wordpress.com/?p=145</guid>
		<description><![CDATA[“Beribadah lah hanya kepada Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orangtua kalian, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, musafir, dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.” (An-Nisa`: 36) Betapa indah syariat islam. Ia mengajarkan &#8230; <a href="http://dakwahhikmah.wordpress.com/2011/12/29/keindahan-islam-semakin-bertambah/">Continue reading <span class="meta-nav">&#187;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dakwahhikmah.wordpress.com&amp;blog=3424333&amp;post=145&amp;subd=dakwahhikmah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="JUSTIFY">“<em>Beribadah lah hanya kepada Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orangtua kalian, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, musafir, dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.” </em>(An-Nisa`: 36)<span id="more-145"></span></p>
<p align="JUSTIFY">Betapa indah syariat islam. Ia mengajarkan adab nan tinggi dan akhlak yang mulia. Menghormati yang lebih tua, menyayangi yang lebih muda, dan selalu berusaha menjaga keutuhan keluarga. Membersihkan berbagai noda yang mengendap di dada,yang akan merusak hubungan sesama manusia,baik satu keluarga , satu masyarakat bahkan satu negara. Menyantuni yang tidak punya dan tidak mendengki kepada si kaya.</p>
<p align="JUSTIFY">Silaturahim adalah resep mujarab lagi ampuh untuk ini semua. Bahkan Rasulullah n suri tauladan kita mengajarkan bahwa silaturahim termasuk bagian terpenting dakwah Islam, sebagaimana diriwayatkan Abu Umamah, dia berkata: Amr bin ‘Abasah As-Sulami z berkata:</p>
<p dir="RTL" align="JUSTIFY"><span style="font-family:'DejaVu Sans';"><span style="font-family:Arial;">فَقُلْتُ</span></span>: <span style="font-family:'DejaVu Sans';"><span style="font-family:Arial;">بِأَيِّ شَيْءٍ أَرْسَلَكَ؟ قَالَ</span></span>: <span style="font-family:'DejaVu Sans';"><span style="font-family:Arial;">أَرْسَلَنِي بِصِلَةِ الْأَرْحَامِ وَكَسْرِ الْأَوْثَانِ وَأَنْ يُوَحَّدَ اللهُ لاَ يُشْرَكَ بِهِ شَيْءٌ</span></span></p>
<p align="JUSTIFY">Aku berkata: “Dengan apa Allah mengutusmu?” Rasulullah n menjawab: “Allah mengutusku dengan silaturahim, menghancurkan berhala dan agar Allah ditauhidkan, tidak disekutukan dengan-Nya sesuatupun.” (HR. Muslim, Kitab Shalatul Musafirin, Bab Islam ‘Amr bin ‘Abasah, no. 1927)</p>
<p align="JUSTIFY">An-Nawawi t menjelaskan hadits ini dengan menyatakan: “Dalam hadits ini terdapat dalil yang sangat jelas untuk memotivasi silaturahim. Karena Nabi n mengiringkannya dengan tauhid dan tidak menyebutkan bagian-bagian Islam yang lain kepadanya (‘Amr). Beliau hanya menyebutkan yang terpenting, dan beliau awali dengan silaturahim.” (Syarh Shahih Muslim, 5/354-355, cet. Darul Mu`ayyad)</p>
<p align="JUSTIFY"><strong>MAKNA SILATURAHIM</strong></p>
<p align="JUSTIFY">Silaturahim berasal dari bahasa Arab, yaitu dari kata <span style="font-family:'DejaVu Sans';"><span style="font-family:Arial;">صِلَةٌ</span> </span>dan <span style="font-family:'DejaVu Sans';"><span style="font-family:Arial;">الرَّحِمُ</span> </span>. Kata <span style="font-family:'DejaVu Sans';"><span style="font-family:Arial;">صِلَةٌ</span> </span>adalah bentuk mashdar (gerund) dari kata <span style="font-family:'DejaVu Sans';"><span style="font-family:Arial;">وَصَلَ</span></span>- <span style="font-family:'DejaVu Sans';"><span style="font-family:Arial;">يَصِلُ</span></span>, yang berarti sampai, menyambung. Ar-Raghib Al-Asfahani berkata: “<span style="font-family:'DejaVu Sans';"><span style="font-family:Arial;">وَصَلَ – الْاِتِّصَالُ</span> </span>yaitu menyatunya beberapa hal, sebagian dengan yang lain.” (Al-Mufradat fi Gharibil Qur`an, hal. 525)</p>
<p align="JUSTIFY">Adapun kata <span style="font-family:'DejaVu Sans';"><span style="font-family:Arial;">الرَّحِمُ</span></span>, Ibnul Manzhur berkata: “<span style="font-family:'DejaVu Sans';"><span style="font-family:Arial;">الرَّحِمُ</span> </span>adalah hubungan kekerabatan, yang asalnya adalah tempat tumbuhnya janin di dalam perut.” (Lisanul ‘Arab)</p>
<p align="JUSTIFY">Jadi, silaturahim artinya adalah menyambung tali persaudaraan kepada kerabat yang memiliki hubungan nasab. Masuk kedaklamnya menjaga tali persaudaraan tersebut.</p>
<p align="JUSTIFY"><strong>PENJELASAN AYAT</strong></p>
<p align="JUSTIFY">“<em>Beribadah lah hanya kepada Allah dan janganlah kalian mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun.”</em></p>
<p align="JUSTIFY">Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di t menjelaskan: “Allah l memerintahkan hamba-Nya untuk beribadah hanya kepada-Nya saja, tidak mensekutukan-Nya. Yaitu masuk dalam penghambaan diri kepada-Nya dan taat terhadap perintah dan larangan-Nya, dengan kecintaan, ketundukan, dan ikhlas untuk-Nya pada semua jenis ibadah, lahiriah maupun batiniah, serta melarang dari menyekutukan sesuatu (syirik) dengan-Nya. Baik syirik kecil maupun besar, baik dengan malaikat, nabi, wali, ataupun makhluk lainnya yang tidak memiliki bagi diri mereka sendiri manfaat, mudarat, kematian, kehidupan, maupun pembangkitan. Bahkan yang menjadi keharusan (kewajiban) yang pasti adalah mengikhlaskan ibadah bagi Dzat yang memiliki kesempurnaan dari segala sisi, yang milik-Nya lah segala pengaturan. Tidak ada yang menandingi-Nya. Tidak ada yang membantu-Nya.”</p>
<p align="JUSTIFY">Setelah Allah l memerintahkan untuk beribadah kepada-Nya dan menunaikan hak-Nya, Allah l memerintahkan untuk menunaikan hak-hak hamba-Nya secara berurutan (sesuai skala prioritas), yang lebih dekat dan seterusnya. Maka Allah l mengatakan:</p>
<p align="JUSTIFY">“<em>Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak.”</em></p>
<p align="JUSTIFY">Artinya, berbuat baiklah kalian kepada mereka dengan ucapan yang mulia, tutur kata yang lembut, dan perbuatan yang baik, dengan menaati perintah mereka berdua dan menjauhi larangan mereka, memberikan nafkah kepada mereka, memuliakan orang yang memiliki hubungan dengan mereka berdua, dan menyambung tali silaturahim, yang mana tidak akan ada kerabat bagimu kecuali dengan perantaraan mereka berdua.</p>
<p align="JUSTIFY">Berbakti kepada kedua orangtua memiliki dua lawan, yaitu berbuat jelek (durhaka) dan tidak berbuat baik. Kedua hal ini terlarang.</p>
<p align="JUSTIFY">“<em>(Dan kepada) karib kerabat.”</em></p>
<p align="JUSTIFY">Yakni, berbuat baiklah juga kepada mereka. Kerabat di sini meliputi semuanya, yang dekat ataupun jauh. Berbuat baik kepada mereka dengan perkataan dan perbuatan, serta tidak memutuskan silaturahim dengan mereka, baik dalam bentuk perkataan maupun perbuatan.</p>
<p align="JUSTIFY">“<em>(Dan kepada) anak-anak yatim.”</em></p>
<p align="JUSTIFY">Anak yatim yaitu orang yang ditinggal mati ayah mereka dalam keadaan masih kecil. Mereka punya hak atas kaum muslimin. Baik anak yatim tersebut termasuk kerabat atau bukan. Bentuk perbuatan baik terhadap mereka yaitu dengan menanggung biaya hidup mereka, berbuat baik dan melipur derita mereka, mendidik mereka dengan pendidikan terbaik, dalam urusan agama maupun dunia.</p>
<p align="JUSTIFY">“<em>(Dan kepada) orang-orang miskin.”</em></p>
<p align="JUSTIFY">
<p align="JUSTIFY">Yaitu orang-orang yang tertahan dengan kebutuhan mereka sehingga tidak mendapatkan kecukupan untuk diri mereka dan orang yang mereka tanggung. Bentuk perbuatan baik kepada mereka adalah dengan menutupi kekurangan mereka, membantu mereka sehingga tercukupi kebutuhannya. Juga dengan mengajak orang lain untuk melakukan hal tersebut dan melakukan apa yang mampu untuk dilakukan.</p>
<p align="JUSTIFY">“<em>(Dan kepada) tetangga yang dekat.”</em></p>
<p align="JUSTIFY">Artinya, kerabat yang rumahnya dekat dengan kita. Sehingga dia mempunyai dua hak atas kita, hak sebagai kerabat dan hak sebagai tetangga. Perbuatan baik di sini dikembalikan kepada adat yang berlaku.</p>
<p align="JUSTIFY">Demikian juga dengan:</p>
<p align="JUSTIFY">“<em>Tetangga yang jauh.”</em></p>
<p align="JUSTIFY">Yaitu tetangga yang tidak mempunyai hubungan kekerabatan. Dalam hal ini, tetangga yang lebih dekat pintunya lebih besar pula haknya. Sehingga dianjurkan bagi seseorang untuk selalu memerhatikan tetangganya, dengan memberikan hadiah, shadaqah, dengan dakwah, kesopanan, baik dalam ucapan maupun perbuatan. Juga tidak menyakitinya, baik dengan ucapan maupun perbuatan.</p>
<p align="JUSTIFY">“<em>(Dan kepada) teman sejawat.”</em></p>
<p align="JUSTIFY">Ada yang mengatakan bahwa maksudnya adalah teman dalam perjalanan. Ada juga yang mengatakan maksudnya adalah istri. Ada yang mengatakan maksudnya teman secara mutlak. Dan mungkin pendapat (terakhir) ini lebih benar, karena mencakup teman di rumah, di perjalanan, serta istri.</p>
<p align="JUSTIFY">Sehingga, seorang teman memiliki kewajiban terhadap temannya lebih daripada hak Islamnya, untuk membantunya dalam urusan agama maupun dunia, menasihatinya, menepati janji terhadapnya, ketika senang ataupun susah, ketika sedang bersemangat ataupun malas. Hendaknya ia mencintai untuk temannya apa yang dia sukai untuk dirinya, dan membenci apa yang ia benci untuk dirinya. Semakin lama pergaulan dengannya, semakin besar pula haknya.</p>
<p align="JUSTIFY">“<em>(Dan kepada) ibnu sabil.”</em></p>
<p align="JUSTIFY">Yaitu orang asing di negeri lain, yang membutuhkan bantuan materi ataupun tidak. Ia punya hak atas kaum muslimin, karena dia sangat butuh atau karena dia berada di negeri asing. Dia memerlukan bantuan agar sampai ke tempat tujuannya atau tercapai sebagian maksud dan cita-citanya. Juga dengan memuliakan dan menemaninya agar tidak kesepian.</p>
<p align="JUSTIFY">“<em>(Dan kepada) hamba sahayamu.”</em></p>
<p align="JUSTIFY">Yaitu apa yang kalian miliki, baik dari kalangan Bani Adam atau dari hewan. Perbuatan baik di sini yaitu dengan mencukupi kebutuhan mereka dan tidak membebani sesuatu yang memberatkan mereka. Membantu mereka melaksanakan hal yang menjadi tanggung jawab mereka. Mendidik mereka untuk kemaslahatan mereka.</p>
<p align="JUSTIFY">
<p align="JUSTIFY">Maka barangsiapa yang melaksanakan perintah-perintah Allah l dan syariat-Nya, berhak mendapatkan pahala yang besar dan pujian yang indah. Sedangkan orang yang tidak melaksanakan perintah-perintah tersebut, dialah orang yang menjauh dari Rabb-Nya dan tidak taat terhadap perintah-perintah-Nya, tidak rendah hati kepada makhluk-Nya. Bahkan dia adalah orang yang sombong terhadap hamba Allah l, teperdaya dengan dirinya dan bangga dengan ucapannya.</p>
<p align="JUSTIFY">Oleh karena itulah Allah l berfirman:</p>
<p align="JUSTIFY">“<em>Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong….”</em></p>
<p align="JUSTIFY">Maksudnya, sesungguhnya Allah l tidak mencintai orang yang teperdaya dengan dirinya, sombong terhadap hamba Allah l.</p>
<p align="JUSTIFY">“…<em>dan membangga-banggakan diri.”</em></p>
<p align="JUSTIFY">Yakni, memuji dirinya dan menyanjungnya untuk membanggakan dan menyombongkan dirinya kepada hamba Allah l. (Tafsir As-Sa’di, hal. 191-192, cet. Darus Salam)</p>
<p align="JUSTIFY">Dari ayat dan penafsiran di atas, kita bisa berbuat baik kepada seluruh hamba-Nya. Terlebih kepada kerabat-kerabat dekat yang juga muslim, mereka memiliki hak-hak yang banyak atas kita. Rasulullah n bersabda:</p>
<p align="RIGHT"><span style="font-family:'DejaVu Sans';"><span style="font-family:Arial;">إِنَّ اللهَ كَتَبَ الْإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ</span></span></p>
<p align="JUSTIFY">“<em>Sesungguhnya Allah mewajibkan perbuatan baik kepada segala sesuatu.”</em> (HR. Muslim dari Abu Ya’la Syaddad bin Aus z)</p>
<br />Filed under: <a href='http://dakwahhikmah.wordpress.com/category/akhlak/'>Akhlak</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dakwahhikmah.wordpress.com/145/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dakwahhikmah.wordpress.com/145/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dakwahhikmah.wordpress.com/145/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dakwahhikmah.wordpress.com/145/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dakwahhikmah.wordpress.com/145/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dakwahhikmah.wordpress.com/145/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dakwahhikmah.wordpress.com/145/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dakwahhikmah.wordpress.com/145/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dakwahhikmah.wordpress.com/145/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dakwahhikmah.wordpress.com/145/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dakwahhikmah.wordpress.com/145/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dakwahhikmah.wordpress.com/145/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dakwahhikmah.wordpress.com/145/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dakwahhikmah.wordpress.com/145/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dakwahhikmah.wordpress.com&amp;blog=3424333&amp;post=145&amp;subd=dakwahhikmah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dakwahhikmah.wordpress.com/2011/12/29/keindahan-islam-semakin-bertambah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:thumbnail url="http://dakwahhikmah.files.wordpress.com/2011/12/lush-green-field-cloudy-31000.jpg?w=150" />
		<media:content url="http://dakwahhikmah.files.wordpress.com/2011/12/lush-green-field-cloudy-31000.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">lush-green-field-cloudy-31000</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1d1cf41d60cc8597df8834fb87f9edad?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dakwahhikmah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menjaga rahasia</title>
		<link>http://dakwahhikmah.wordpress.com/2011/12/23/menjaga-rahasia/</link>
		<comments>http://dakwahhikmah.wordpress.com/2011/12/23/menjaga-rahasia/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Dec 2011 10:15:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dakwah Hikmah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[adab]]></category>
		<category><![CDATA[akhlaq]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dakwahhikmah.wordpress.com/?p=140</guid>
		<description><![CDATA[Gosip, layaknya sesuatu yang mudah ditemui. Satu rahasia yang semestinya tersimpan rapi pun begitu mudah dibongkar melalui jalan ini. Tak hanya diminati oleh kaum ibu, anak-anak pun banyak menggemarinya. Tatkala duduk-duduk bersama teman, tak jarang berbagai obrolan meluncur tanpa terasa. Sampai hal yang semestinya tak disampaikan pun akhirnya terungkap. Terkadang disertai bumbu, “Ssst&#8230;. tapi jangan &#8230; <a href="http://dakwahhikmah.wordpress.com/2011/12/23/menjaga-rahasia/">Continue reading <span class="meta-nav">&#187;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dakwahhikmah.wordpress.com&amp;blog=3424333&amp;post=140&amp;subd=dakwahhikmah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="JUSTIFY"><span style="font-family:Dotum;">Gosip, layaknya sesuatu yang mudah ditemui. Satu rahasia yang semestinya tersimpan rapi pun begitu mudah dibongkar melalui jalan ini. Tak hanya diminati oleh kaum ibu, anak-anak pun banyak menggemarinya. Tatkala duduk-duduk bersama teman, tak jarang berbagai obrolan meluncur tanpa terasa. Sampai hal yang semestinya tak disampaikan pun akhirnya terungkap. Terkadang disertai bumbu, “Ssst&#8230;. tapi jangan bilang siapa-siapa ya? Ini rahasia!”</span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family:Dotum;">Hal tercela yang dianggap biasa. Orangtua yang mendengar atau menyaksikan anak-anaknya melakukan seperti ini pun tak bereaksi. Wallahul musta’an&#8230;</span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family:Dotum;">Padahal tidak demikian yang ada dalam kehidupan para pendahulu kita yang shalih. Mereka begitu kukuh memegang sesuatu yang disebut rahasia. Barangkali perlu kita lihat, bagaimana putri Rasulullah </span><span style="font-family:'AGA Arabesque';"></span><span style="font-family:Dotum;">, Fathimah radhiyallahu ‘anha memegang rahasia sang ayah, sampai waktunya dia bisa </span><span style="font-family:Dotum;">mengungkapkannya. Aisyah </span><span style="font-family:Dotum;">radhiyallahu ‘anha mengisahkan:</span></p>
<p align="JUSTIFY">“<span style="font-family:Dotum;">Suatu ketika, Fathimah datang</span><span style="font-family:Dotum;"> berjalan kaki. Cara jalannya amat mirip dengan cara jalan Nabi </span><span style="font-family:'AGA Arabesque';"></span><span style="font-family:Dotum;">. Nabi </span><span style="font-family:'AGA Arabesque';"></span><span style="font-family:Dotum;"> lantas menyambut, “Selamat datang, wahai putriku!” Lalu beliau membisikkan sesuatu kepadanya. </span><span style="font-family:Dotum;">Fathimah pun menangis.</span><span style="font-family:Dotum;"> Kutanyakan kepadanya, “Mengapa </span><span style="font-family:Dotum;">engkau menangis?” Kemudian </span><span style="font-family:Dotum;">beliau membisikkan sesuatu lagi kepadanya, lalu dia tertawa. Aku berkata heran, “Tak pernah kulihat kegembiraan yang begitu dekat dengan kesedihan seperti hari ini.” Aku pun bertanya pada Fathimah tentang apa yang dikatakan Nabi </span><span style="font-family:'AGA Arabesque';"></span><span style="font-family:Dotum;">. Fathimah menjawab, “Aku </span><span style="font-family:Dotum;">tak akan menyebarkan rahasia </span><span style="font-family:Dotum;">Rasulullah </span><span style="font-family:'AGA Arabesque';"></span><span style="font-family:Dotum;">!” Sampai ketika</span><span style="font-family:Dotum;"> Nabi </span><span style="font-family:'AGA Arabesque';"></span><span style="font-family:Dotum;"> telah wafat, aku tanyakan kembali hal itu kepadanya (barulah Fathimah menceritakannya).” (</span><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><strong>HR. Al Bukhari</strong></span><span style="font-family:Dotum;"> no.3623/3624 dan </span><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><strong>Muslim </strong></span><span style="font-family:Dotum;">no.2450)</span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family:Dotum;"> Kalau sekarang kita dapati, orangtua yang membiarkan perilaku anaknya menyebarkan rahasia, dulu pada masa shahabat, orangtua justru membimbing anaknya untuk menjaga rahasia. Seorang ibu yang mulia, yang dikenal amat besar semangatnya untuk memberikan kebaikan pada anaknya, Ummu Sulaim radhiyallahu ‘anha, menjadi cermin bagi kita untuk berkaca diri. Diceritakan oleh putranya, Anas bin Malik </span><span style="font-family:'AGA Arabesque';"></span><span style="font-family:Dotum;">:</span></p>
<p align="JUSTIFY">“<span style="font-family:Dotum;">Rasulullah </span><span style="font-family:'AGA Arabesque';"></span><span style="font-family:Dotum;"> pernah mendatangiku ketika aku sedang bermain-main dengan anak-anak yang lain. Beliau memberi salam kepada kami, lalu menyuruhku untuk suatu keperluan, sehingga aku terlambat pulang kepada ibuku. Ketika aku datang, ibuku bertanya, “Apa </span><span style="font-family:Dotum;">yang membuatmu terlambat?” </span><span style="font-family:Dotum;">“Rasulullah </span><span style="font-family:'AGA Arabesque';"></span><span style="font-family:Dotum;"> menyuruhku untuk suatu keperluan,” jawabku. “Apa keperluannya?” tanya ibuku. Aku menjawab, “Itu rahasia.” Ibuku pun mengatakan, “Kalau demikian, jangan engkau beritahukan rahasia Rasulullah </span><span style="font-family:'AGA Arabesque';"></span><span style="font-family:Dotum;"> kepada siapa pun!” (</span><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><strong>HR. Al Bukhari</strong></span><span style="font-family:Dotum;"> no.6289 dan </span><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><strong>Muslim</strong></span><span style="font-family:Dotum;"> no.2482)</span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family:Dotum;"> Al Hafizh Ibnu Hajar </span><span style="font-family:Dotum;">rahimahullah menjelaskan,</span><span style="font-family:Dotum;">sebagian ulama mengatakan </span><span style="font-family:Dotum;">bahwa sepertinya rahasia itu khusus berkenaan dengan istri-istri Nabi </span><span style="font-family:'AGA Arabesque';"></span><span style="font-family:Dotum;">. Seandainya rahasia itu berupa ilmu tentu tidak ada celah bagi Anas </span><span style="font-family:'AGA Arabesque';"></span><span style="font-family:Dotum;"> untuk menyembunyikannya.</span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family:Dotum;"> Al Hafizh rahimahullah </span><span style="font-family:Dotum;">juga menukilkan penjelasan Ibnu </span><span style="font-family:Dotum;">Baththal rahimahullah bahwa </span><span style="font-family:Dotum;">pendapat yang dipegangi oleh </span><span style="font-family:Dotum;">ahlul ilmi, rahasia tidak boleh</span><span style="font-family:Dotum;"> disembunyikan bila mengandung bahaya bagi pemiliknya. Sebagian </span><span style="font-family:Dotum;">besar dari mereka berpendapat </span><span style="font-family:Dotum;">bila pemilik rahasia itu meninggal, </span><span style="font-family:Dotum;">maka tidak harus disembunyikan </span><span style="font-family:Dotum;">rahasianya sebagaimana yang</span><span style="font-family:Dotum;"> harus dilakukan semasa hidupnya, kecuali bila berakibat merendahkan martabatnya. (Fathul Bari, 11/99)</span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family:Dotum;"> Demikian semestinya. </span><span style="font-family:Dotum;">Orangtua harus benar-benar </span><span style="font-family:Dotum;">bijak mengajarkan kepada anak-anaknya untuk menjaga rahasia. Tidak setiap hal boleh diberitakan </span><span style="font-family:Dotum;">dan tidak setiap rahasia boleh disebarkan. Dengan ini, akan </span><span style="font-family:Dotum;">tumbuh kepercayaan masyarakat kepada dirinya di masa mendatang, sebagai seseorang yang dipandang bisa memegang rahasia</span><span style="font-family:Dotum;">. </span><span style="font-family:'Monotype Corsiva', cursive;">Wallähu ta’älä a’lamu bish shawäb.</span></p>
<br />Filed under: <a href='http://dakwahhikmah.wordpress.com/category/akhlak/'>Akhlak</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dakwahhikmah.wordpress.com/140/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dakwahhikmah.wordpress.com/140/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dakwahhikmah.wordpress.com/140/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dakwahhikmah.wordpress.com/140/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dakwahhikmah.wordpress.com/140/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dakwahhikmah.wordpress.com/140/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dakwahhikmah.wordpress.com/140/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dakwahhikmah.wordpress.com/140/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dakwahhikmah.wordpress.com/140/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dakwahhikmah.wordpress.com/140/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dakwahhikmah.wordpress.com/140/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dakwahhikmah.wordpress.com/140/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dakwahhikmah.wordpress.com/140/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dakwahhikmah.wordpress.com/140/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dakwahhikmah.wordpress.com&amp;blog=3424333&amp;post=140&amp;subd=dakwahhikmah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dakwahhikmah.wordpress.com/2011/12/23/menjaga-rahasia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:thumbnail url="http://dakwahhikmah.files.wordpress.com/2011/12/2.jpg?w=150" />
		<media:content url="http://dakwahhikmah.files.wordpress.com/2011/12/2.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">2</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1d1cf41d60cc8597df8834fb87f9edad?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dakwahhikmah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Phobia dan Alergi Dengan Islam?</title>
		<link>http://dakwahhikmah.wordpress.com/2011/12/22/phobia-dan-alergi-dengan-islam/</link>
		<comments>http://dakwahhikmah.wordpress.com/2011/12/22/phobia-dan-alergi-dengan-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Dec 2011 10:46:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dakwah Hikmah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj dan Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[manhaj]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dakwahhikmah.wordpress.com/?p=136</guid>
		<description><![CDATA[Bom, jihad, hukum rajam, potong tangan. Sebagian atau bahkan banyak orang menyangka inilah itulah Islam. Islam yang begitu kejam. Identik dengan kekerasan. Benarkah demikian? Tidak adakah kelembutan dalam Islam? “Katanya” Islam datang sebagai rahmat bagi semesta alam? Sesungguhnya Islam tidaklah sesempit yang digambarkan banyak orang di mana Islam hanya dikaitkan dengan pelaksanaan ibadah-ibadah mahdhah seperti &#8230; <a href="http://dakwahhikmah.wordpress.com/2011/12/22/phobia-dan-alergi-dengan-islam/">Continue reading <span class="meta-nav">&#187;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dakwahhikmah.wordpress.com&amp;blog=3424333&amp;post=136&amp;subd=dakwahhikmah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="JUSTIFY"><em>Bom, jihad, hukum rajam, potong tangan. Sebagian atau bahkan banyak orang menyangka inilah itulah Islam. Islam yang begitu kejam. Identik dengan kekerasan. Benarkah demikian? Tidak adakah kelembutan dalam Islam? “Katanya” Islam datang sebagai rahmat bagi semesta alam?<span id="more-136"></span></em></p>
<p align="JUSTIFY">Sesungguhnya Islam tidaklah sesempit yang digambarkan banyak orang di mana Islam hanya dikaitkan dengan pelaksanaan ibadah-ibadah mahdhah seperti shalat, puasa, zakat, atau haji. Islam adalah sebuah sistem hidup yang sebenarnya mengajarkan banyak hal kepada pemeluknya. Jika mau menggali kandungan Islam, kita akan menjumpai bertaburnya ajaran yang (salah satunya) menyinggung tentang adab, seperti adab terhadap orangtua, anak, saudara, tetangga, masyarakat, hingga pemerintah. Demikian juga adab bertamu, berbeda pendapat, makan maupun minum, dan sebagainya. Saking lengkapnya, Islam pun mengajarkan tentang adab bersin, menguap, hingga buang hajat.</p>
<p align="JUSTIFY">Demikian lengkap dan sempurna, hanya sayangnya kebanyakan kaum muslimin justru mengabaikannya. Di samping dikarenakan awam, sebagian kita merasa cukup jika ia telah menunaikan shalat, berpuasa Ramadhan, zakat, atau (jika mampu) berhaji. Padahal semestinya jika ibadah-ibadah tersebut dikerjakan dengan baik, ikhlas dan sesuai tuntunan Rasulullah n, dapat membuahkan akhlak yang baik bagi pelakunya. Maka lebih-lebih jika kandungan Islam lainnya dipraktikkan dengan dilandasi akidah yang benar, niscaya kemaslahatan dalam berkeluarga dan bermasyarakat akan terwujud.</p>
<p align="JUSTIFY">Tidak akan kita jumpai tetangga yang saling mengganggu baik dengan lisan maupun tindakannya. Tidak ada anak yang membangkang terhadap orangtuanya. Tidak perlu pula ada pertumpahan darah hanya karena berebut warisan. Intinya, tidak akan kita jumpai kezaliman antar sesama anak manusia karena segalanya diliputi kesejukan dan kedamaian.</p>
<p align="JUSTIFY">Sudah semestinya, jika kita dikaruniai hidayah bisa mengenal Islam secara benar dengan dalil-dalilnya, berupaya memelopori sekaligus mendakwahkan penerapan adab-adab Islam di tengah masyarakat. Meski perlu dicatat, kita dihadapkan pada masyarakat awam yang heterogen yang tentu saja pemahamannya masih karut marut. Ada yang fanatik ormas, fanatik mazhab, fanatik partai, kultus serta taklid buta dengan individu tertentu, dsb. Ada yang menganggap kesyirikan sebagai wasilah (sarana) mendekatkan diri kepada Allah l. Ada pula yang tidak paham sunnah bahkan sampai pada taraf mencelanya, dan sebagainya.</p>
<p align="JUSTIFY">Oleh karena itu mendakwahi masyarakat umum jelas dibutuhkan sikap bijak. Bergelutnya mereka dengan maksiat dan kemungkaran, tidak lantas disikapi secara sama rata. Mengenalkan al-haq (sesuai kemampuan) kepada mereka menjadi tahapan yang harus dikedepankan. Bukan belum-belum sudah menjaga jarak serta dengan mudahnya memvonis orang lain sebagai “ahlul maksiat” sehingga itu dijadikan dalil untuk menjauhi bahkan memusuhi mereka. Padahal bisa jadi orang yang dimaksud tak pernah mengerti halal-haram, sekadar ikut-ikutan dengan tradisi yang telah berkembang di masyarakat, bahkan ada yang sangat asing dengan ajaran-ajaran Islam.</p>
<p align="JUSTIFY">Semestinya kita menyuburkan sikap empati dengan sejenak menengok ke belakang saat kita belum mengenal dakwah, belum mengenal mana tauhid dan mana syirik, mana halal mana haram, mana perintah mana larangan. Masa-masa itulah yang tengah dihadapi masyarakat umumnya.</p>
<p align="JUSTIFY">Lebih-lebih kita sadar bahwa pada dasarnya syariat itu berat dibandingkan hawa nafsu. Sehingga itu menjadi pelecut semangat kita untuk tidak surut dalam mendakwahi masyarakat awam, tentunya dengan tetap menaati rambu-rambu syariat.</p>
<p align="JUSTIFY">Jangan sampai sikap yang tidak pada tempatnya justru membuat masyarakat lari. Kita tanamkan di benak kaum muslimin, Islam tidaklah seram, tidak kaku, ….karena Islam itu indah dan penuh kasih sayang! Memang Islam datang sebagai rahmat bagi seluruh alam semesta.</p>
<br />Filed under: <a href='http://dakwahhikmah.wordpress.com/category/manhaj-dan-dakwah/'>Manhaj dan Dakwah</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dakwahhikmah.wordpress.com/136/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dakwahhikmah.wordpress.com/136/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dakwahhikmah.wordpress.com/136/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dakwahhikmah.wordpress.com/136/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dakwahhikmah.wordpress.com/136/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dakwahhikmah.wordpress.com/136/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dakwahhikmah.wordpress.com/136/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dakwahhikmah.wordpress.com/136/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dakwahhikmah.wordpress.com/136/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dakwahhikmah.wordpress.com/136/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dakwahhikmah.wordpress.com/136/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dakwahhikmah.wordpress.com/136/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dakwahhikmah.wordpress.com/136/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dakwahhikmah.wordpress.com/136/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dakwahhikmah.wordpress.com&amp;blog=3424333&amp;post=136&amp;subd=dakwahhikmah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dakwahhikmah.wordpress.com/2011/12/22/phobia-dan-alergi-dengan-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1d1cf41d60cc8597df8834fb87f9edad?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dakwahhikmah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ini Islam Yang Sebenarnya</title>
		<link>http://dakwahhikmah.wordpress.com/2011/12/22/ini-islam-yang-sebenarnya/</link>
		<comments>http://dakwahhikmah.wordpress.com/2011/12/22/ini-islam-yang-sebenarnya/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Dec 2011 10:42:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dakwah Hikmah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj dan Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[manha]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dakwahhikmah.wordpress.com/?p=132</guid>
		<description><![CDATA[INILAH ISLAM SEBENARNYA Islam Memang Selalu Memerhatikan Prinsip Keilmuan dan Tazkiyatun Nufus (Penyucian Jiwa) Islam yang dibawa Rasulullah ini adalah agama yang sempurna dan paripurna. Syariatnya yang senantiasa relevan sepanjang masa benar-benar menyinari segala sudut kehidupan umat manusia. Tak hanya wacana keilmuan semata yang dipancarkannya, misi tazkiyatun nufus (penyucian jiwa) dari berbagai macam akhlak tercela &#8230; <a href="http://dakwahhikmah.wordpress.com/2011/12/22/ini-islam-yang-sebenarnya/">Continue reading <span class="meta-nav">&#187;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dakwahhikmah.wordpress.com&amp;blog=3424333&amp;post=132&amp;subd=dakwahhikmah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="CENTER"><strong>INILAH ISLAM SEBENARNYA</strong></p>
<p align="CENTER"><em>Islam Memang Selalu Memerhatikan Prinsip Keilmuan dan Tazkiyatun Nufus (Penyucian Jiwa)</em></p>
<p align="JUSTIFY">Islam yang dibawa Rasulullah ini adalah agama yang sempurna dan paripurna. Syariatnya yang senantiasa relevan sepanjang masa benar-benar menyinari segala sudut kehidupan umat manusia. Tak hanya wacana keilmuan semata yang dipancarkannya, misi <em>tazkiyatun nufus</em> (penyucian jiwa) dari berbagai macam akhlak tercela (amoral) pun berjalan seiring dengan misi keilmuan tersebut dalam mengawal umat manusia menuju puncak kemuliaannya. Sehingga tidaklah dibenarkan metode dakwah yang memfokuskan dakwahnya kepada akhlak mulia semata, namun melalaikan sisi keilmuan (terkhusus tauhid <em>uluhiyyah</em>, <em>al-asma` wash shifat</em>, dan fiqih ibadah).</p>
<p align="JUSTIFY">Allah berfirman:</p>
<p align="JUSTIFY">“Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, menyucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab (Al-Qur`an) dan Al-Hikmah (As-Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata, dan (juga) kepada kaum yang lain dari mereka yang belum berhubungan dengan mereka. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Al-Jumu’ah: 2-3)</p>
<p align="JUSTIFY">Dalam haditsnya yang mulia, Rasulullah bersabda:</p>
<p dir="RTL" align="JUSTIFY"><span style="font-family:'DejaVu Sans';"><span style="font-family:'Traditional Arabic';"><span style="font-size:large;">إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلاَقِ</span></span></span></p>
<p align="JUSTIFY">“Sungguh aku diutus (oleh Allah) untuk menyempurnakan akhlak (budi pekerti) umat manusia.” (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad, Ahmad, dan Al-Hakim, dari sahabat Abu Hurairah Dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah no. 45)</p>
<p align="JUSTIFY">Betapa besarnya perhatian Islam terhadap prinsip tazkiyatun nufus dan pembentukan akhlak mulia. Bahkan lima rukun Islam yang merupakan pondasi utama keislaman seseorang sangat berperan dalam penyucian jiwa dan pembentukan akhlak mulia tersebut.</p>
<p align="JUSTIFY">Kalimat syahadat Laa ilaaha illallah menanamkan nilai-nilai penghambaan seorang muslim kepada Allah<em>Ta`ala</em>, dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Jauh dari sifat sombong, angkuh, dan semena-mena. Karena sadar bahwa dirinya adalah seorang hamba yang tak berdaya. Tiada daya dan upaya baginya melainkan karena Allah.</p>
<p align="JUSTIFY">Adapun shalat, maka ia sangat urgen dalam mengantarkan pribadi muslim menjadi insan yang berakhlak mulia. Karena dapat mencegahnya dari segala perbuatan keji dan mungkar, manakala shalat tersebut ditunaikan secara sempurna dengan memerhatikan seluruh syarat, rukun, wajib, dan sunnahnya. Allah berfirman:</p>
<p align="JUSTIFY">“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al-Kitab (Al-Qur`an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (segala perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kalian kerjakan.” (Al-’Ankabut: 45)</p>
<p align="JUSTIFY">Shalat pun dapat membantu seorang muslim untuk membersihkan dirinya dari tabiat buruk yang membelenggunya dan membantunya untuk berakhlak mulia. Allah <em>Ta`ala</em> berfirman:</p>
<p align="JUSTIFY">“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah dan apabila mendapat kebaikan ia amat kikir. Kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat; yang mereka itu istiqamah dalam mengerjakannya, dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta), dan orang-orang yang memercayai hari pembalasan, dan orang-orang yang takut akan azab Rabbnya. Karena azab Rabb mereka itu tak ada yang dapat merasa aman (darinya). Dan orang-orang yang memelihara kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak-budak yang mereka miliki maka mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya. Dan orang-orang yang memberikan kesaksiannya (dengan sebenarnya).” (Al-Ma’arij: 19-33)</p>
<p align="JUSTIFY"><a name="_GoBack"></a>“Sesungguhnya yang dapat kamu beri peringatan hanya orang-orang yang takut kepada azab Rabbnya (sekalipun) mereka tidak melihat-Nya dan mereka mendirikan shalat. Barangsiapa mensucikan dirinya, maka sesungguhnya ia mensucikan diri untuk kebaikan dirinya sendiri. Dan kepada Allah-lah tempat kembali(mu).” (Fathir: 18)</p>
<p align="JUSTIFY">Demikian pula zakat, shaum Ramadhan, dan ibadah haji. Semuanya dapat membentuk pribadi muslim menjadi insan yang berakhlak mulia. Sebagaimana firman Allah:</p>
<p align="JUSTIFY">“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka.” (At-Taubah: 103)</p>
<p align="JUSTIFY">“Hai orang-orang yang beriman telah diwajibkan bagi kalian shaum sebagaimana telah diwajibkan atas umat sebelum kalian agar kalian bertaqwa.” (Al-Baqarah: 183)</p>
<p align="JUSTIFY">“(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh <em>rafats</em> (berkata keji/tidak senonoh, pen.), berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kalian kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa, dan bertaqwalah kepada-Ku, hai orang-orang yang berakal.” (Al-Baqarah: 197)</p>
<p align="JUSTIFY">Dari sini, semakin jelaslah bahwa agama Islam yang mulia ini tak hanya memerhatikan prinsip keilmuan semata. Bahkan akhlak mulia dan amal shalih (sebagai aplikasi dari keilmuan tersebut) merupakan prinsip agama yang sejak dini telah diguratkan Rasulullah dengan sedalam-dalamnya pada bingkai agama Islam.</p>
<p align="JUSTIFY">Sebagaimana penuturan sahabat Abdullah bin Abbas berikut ini: “Tatkala berita kemunculan Nabi Muhammad di kota Makkah telah sampai kepada sahabat Abu Dzar Al-Ghifari, berkatalah ia kepada saudaranya: ‘Pergilah engkau ke Makkah dan carilah informasi tentang seseorang yang mengaku telah mendapat wahyu dari langit itu. Dengarlah kata-katanya. (Bila dirasa cukup, pen.) kembalilah kemari dengan membawa informasi.’ Maka berangkatlah ia (saudara Abu Dzar) menuju Makkah dan didengarkanlah secara saksama segala apa yang dikatakan Nabi n. (Setelah dirasa cukup, pen.) kembalilah ia menemui sahabat Abu Dzar Al-Ghifari, seraya mengatakan: ‘Aku melihatnya (Nabi Muhammad) selalu memerintahkan kepada akhlak mulia, dan aku mendengar darinya suatu perkataan namun bukan syair.” (HR. Muslim no. 2474).</p>
<br />Filed under: <a href='http://dakwahhikmah.wordpress.com/category/manhaj-dan-dakwah/'>Manhaj dan Dakwah</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dakwahhikmah.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dakwahhikmah.wordpress.com/132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dakwahhikmah.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dakwahhikmah.wordpress.com/132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dakwahhikmah.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dakwahhikmah.wordpress.com/132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dakwahhikmah.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dakwahhikmah.wordpress.com/132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dakwahhikmah.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dakwahhikmah.wordpress.com/132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dakwahhikmah.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dakwahhikmah.wordpress.com/132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dakwahhikmah.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dakwahhikmah.wordpress.com/132/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dakwahhikmah.wordpress.com&amp;blog=3424333&amp;post=132&amp;subd=dakwahhikmah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dakwahhikmah.wordpress.com/2011/12/22/ini-islam-yang-sebenarnya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:thumbnail url="http://dakwahhikmah.files.wordpress.com/2011/12/kisah-inspiratif-islam.jpg?w=150" />
		<media:content url="http://dakwahhikmah.files.wordpress.com/2011/12/kisah-inspiratif-islam.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">Kisah-Inspiratif-Islam</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1d1cf41d60cc8597df8834fb87f9edad?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dakwahhikmah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pengikut Rosulullah Sejati</title>
		<link>http://dakwahhikmah.wordpress.com/2011/12/22/pengikut-rosulullah-sejati/</link>
		<comments>http://dakwahhikmah.wordpress.com/2011/12/22/pengikut-rosulullah-sejati/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Dec 2011 10:33:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dakwah Hikmah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj dan Dakwah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dakwahhikmah.wordpress.com/?p=128</guid>
		<description><![CDATA[Pengikut Rasulullah, mereka adalah orang-orang yang berusaha meneladani Rasulullah dalam kehidupan ini. Kehidupan mereka pun diliputi cahaya ilmu dan dihiasi akhlak mulia. Sebagaimana tercermin dalam nasihat Al-Imam Muhammad bin Sirin, Al-Imam Malik, dan yang lainnya dari ulama salaf rahimahumullah: “Ilmu (hadits) ini adalah bagian dari agama, maka lihatlah (selektiflah) dari siapakah agama itu kalian dapatkan. &#8230; <a href="http://dakwahhikmah.wordpress.com/2011/12/22/pengikut-rosulullah-sejati/">Continue reading <span class="meta-nav">&#187;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dakwahhikmah.wordpress.com&amp;blog=3424333&amp;post=128&amp;subd=dakwahhikmah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:left;" align="CENTER">Pengikut Rasulullah, mereka adalah orang-orang yang berusaha meneladani Rasulullah dalam kehidupan ini. Kehidupan mereka pun diliputi cahaya ilmu dan dihiasi akhlak mulia. Sebagaimana tercermin dalam nasihat Al-Imam Muhammad bin Sirin, Al-Imam Malik, dan yang lainnya dari ulama salaf <em>rahimahumullah</em>: “Ilmu (hadits) ini adalah bagian dari agama, maka lihatlah (selektiflah) dari siapakah agama itu kalian dapatkan. Tidaklah cukup (bagi seseorang) berbekal ilmu yang banyak (dalam bidang yang digelutinya, pen.). Akan tetapi haruslah dilengkapi dengan berbagai disiplin ilmu syariat lainnya, karena satu dengan yang lainnya saling terkait. Dengan harapan agar berada di atas jalan yang lurus, agama yang benar, akhlak yang mulia, pikiran yang jernih, dan wawasan yang sempurna.” (Adabul ‘Alim wal Muta’allim, karya Al-Imam An-Nawawi hal. 46)</p>
<p style="text-align:left;" align="JUSTIFY">PENGIKUT RASULULLAH SELALU MENYERUKAN AKHLAK MULIA</p>
<p style="text-align:left;" align="JUSTIFY">Lebih dari itu, mereka mengajak umat ini untuk berilmu dan berakhlak mulia. Di samping berpegang teguh dengan prinsip-prinsip aqidah, mereka juga menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar sesuai dengan yang diperintahkan dalam syariat ini. Meyakini sahnya pelaksanaan haji, jihad, shalat Jum’at dan shalat ied bersama pemerintah yang adil maupun yang jahat. Memelihara persatuan dan kesatuan, meluangkan nasihat untuk umat, dan meyakini kandungan sabda Rasulullah: ‘Seorang mukmin dengan mukmin lainnya ibarat bangunan yang saling mengokohkan satu dengan yang lainnya, (kemudian beliau memasukkan jari-jemari tangan kanannya kepada jari-jemari tangan kirinya).’ Juga sabda beliau: ‘Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam hal saling berkasih sayang, ibarat satu tubuh yang apabila salah satu dari anggota tubuh tersebut sakit, maka anggota tubuh lainnya pun akan merasakan demam dan tidak bisa tidur (sakit pula).’ Memerintahkan kepada kesabaran saat mendapat cobaan, bersyukur saat mendapat kelapangan, dan ridha terhadap takdir pahit yang Allah l tentukan. Menyeru kepada akhlak mulia dan amalan terpuji, dengan meyakini kandungan sabda Rasulullah n: ‘Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.’ Menghasung untuk berbuat baik kepada orang yang memutuskan hubungan denganmu, menderma orang yang tak memberimu, dan memaafkan orang yang menzalimimu. Memerintahkan berbakti kepada kedua orangtua, menyambung tali silaturahim, berbuat baik dengan tetangga, berderma kepada anak-anak yatim, kaum miskin, dan musafir (orang yang dalam perjalanan), serta berlemah lembut kepada hamba sahaya. Melarang dari perbuatan sombong, berbangga diri, aniaya dan semena-mena terhadap sesama, baik dalam posisi benar maupun salah. Memerintahkan kepada budi pekerti mulia dan melarang segala perangai tercela. Semua yang mereka ucapkan dan mereka kerjakan dari semua ini, mengikuti (bimbingan) Al-Qur’an dan As-Sunnah. Dan jalan yang mereka tempuh adalah agama Islam yang dibawa Rasulullah n.”</p>
<p style="text-align:left;" align="JUSTIFY"><a name="_GoBack"></a> Dari sini semakin jelaslah bagi kita, bahwa berhias dengan akhlak mulia dan berdakwah kepada hal ini (akhlak mulia) merupakan bagian dari prinsip utama yang harus dipegang erat-erat oleh setiap muslim yang mengaku sebagai pengikut rasulullh, seiring dengan prinsip keimanan (keilmuan) yang harus terhunjam dalam lubuk hati yang paling dalam. Bila prinsip utama ini benar-benar menyatu dalam kehidupan umat, maka akan teraihlah suatu kebangkitan yang dapat mengantarkan mereka kepada puncak kemuliaan. Sketsa kehidupan di atas benar-benar telah terwujud pada masyarakat tiga generasi terdahulu umat ini (generasi sahabat Nabi Shalllahu&#8217;alayhi Wa Sallam, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in), yang dengannya mereka menyandang gelar “generasi terbaik umat ini”. Rasulullah bersabda:</p>
<p style="text-align:left;" align="JUSTIFY"><span style="font-family:'DejaVu Sans';"><span style="font-family:Arial;">خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِيْ، ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ، ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ، ثُمَّ يَجِيءُ قَوْمٌ تَسْبِقُ شَهَادَةُ أَحَدِهِمْ يَمِيْنَهُ وَيَمِيْنُهُ شَهَادَتَهُ</span></span></p>
<p style="text-align:left;" align="JUSTIFY">“Sebaik-baik manusia (generasi) adalah yang hidup di abadku, kemudian generasi berikutnya, kemudian generasi berikutnya, setelah itu akan datang suatu kaum yang persaksiannya mendahului sumpahnya dan sumpahnya mendahului persaksiannya.” (HR. Al-Bukhari no. 3650 dari sahabat ‘Imran bin Hushain z, dan Muslim no. 4533 dari sahabat Abdullah bin Mas’ud, ‘Imran bin Hushain, dan Abu Hurairah g)</p>
<p style="text-align:left;" align="JUSTIFY">
Ya Allah… berilah kami petunjuk untuk berhias dengan akhlak mulia dalam kehidupan ini, karena tiada yang dapat menunjukinya melainkan Engkau. Dan palingkanlah kami dari segala perangai tercela, karena tiada yang dapat memalingkannya melainkan Engkau. Ya Allah… dengarlah permohonan kami, karena tiada yang dapat mengabulkannya melainkan Engkau…</p>
<p style="text-align:left;" align="JUSTIFY">
<p style="text-align:left;" align="JUSTIFY">
<br />Filed under: <a href='http://dakwahhikmah.wordpress.com/category/manhaj-dan-dakwah/'>Manhaj dan Dakwah</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dakwahhikmah.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dakwahhikmah.wordpress.com/128/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dakwahhikmah.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dakwahhikmah.wordpress.com/128/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dakwahhikmah.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dakwahhikmah.wordpress.com/128/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dakwahhikmah.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dakwahhikmah.wordpress.com/128/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dakwahhikmah.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dakwahhikmah.wordpress.com/128/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dakwahhikmah.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dakwahhikmah.wordpress.com/128/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dakwahhikmah.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dakwahhikmah.wordpress.com/128/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dakwahhikmah.wordpress.com&amp;blog=3424333&amp;post=128&amp;subd=dakwahhikmah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dakwahhikmah.wordpress.com/2011/12/22/pengikut-rosulullah-sejati/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:thumbnail url="http://dakwahhikmah.files.wordpress.com/2011/12/luruskan-niat-di-ittibausalafpress.gif?w=150" />
		<media:content url="http://dakwahhikmah.files.wordpress.com/2011/12/luruskan-niat-di-ittibausalafpress.gif?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">luruskan niat di ittibausalafpress</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1d1cf41d60cc8597df8834fb87f9edad?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dakwahhikmah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kilas Balik dari Kisah PERANG YARMUK</title>
		<link>http://dakwahhikmah.wordpress.com/2010/04/23/kilas-balik-dari-kisah-perang-yarmuk/</link>
		<comments>http://dakwahhikmah.wordpress.com/2010/04/23/kilas-balik-dari-kisah-perang-yarmuk/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Apr 2010 06:12:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dakwah Hikmah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Siroh]]></category>
		<category><![CDATA[siroh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dakwahhikmah.wordpress.com/?p=85</guid>
		<description><![CDATA[Buletin Islam AL ILMU Edisi: 19/V/VIII/1431 Kilas Balik dari Kisah PERANG YARMUK Sejarah kejayaan Islam tak lepas dari amalan jihad yang diperani oleh para pendahulu umat ini. Jihad memiliki kedudukan mulia di dalam Islam. Tentunya, diatas ketentuan yang telah digariskan Allah  dan Rasul-Nya . Bukan aksi teror yang muncul dari semangat tanpa ilmu. Tulisan berikut &#8230; <a href="http://dakwahhikmah.wordpress.com/2010/04/23/kilas-balik-dari-kisah-perang-yarmuk/">Continue reading <span class="meta-nav">&#187;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dakwahhikmah.wordpress.com&amp;blog=3424333&amp;post=85&amp;subd=dakwahhikmah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h5>Buletin Islam <strong>AL ILMU</strong> Edisi:     19/V/VIII/1431</h5>
<h2 style="text-align:center;">Kilas  Balik dari Kisah PERANG YARMUK</h2>
<p>Sejarah kejayaan Islam tak lepas dari amalan jihad yang diperani oleh   para pendahulu umat ini. Jihad memiliki kedudukan mulia di dalam  Islam.  Tentunya, diatas ketentuan yang telah digariskan Allah  dan  Rasul-Nya .  Bukan aksi teror yang muncul dari semangat tanpa ilmu.  Tulisan berikut  ini adalah memaparkan gambaran <em>jihad fii  sabilillaah</em> di masa  Khalifah Abu Bakr Ash-Shiddiq .<span id="more-85"></span></p>
<p>Seusai memulihkan kondisi jazirah ‘Arab,   dengan memerangi kaum murtad dan orang-orang yang menolak membayar   zakat, Abu Bakr  berusaha keras memobilisasi pasukan Islam dalam upaya   menaklukkan negeri Syam yang termasuk daerah teritorial kerajaan Romawi.</p>
<p><strong>Keadaan Romawi sebelum Peperangan</strong></p>
<p>Ketika pasukan Islam bergerak menuju Syam, tentara Romawi merasa   terkejut dan sangat takut. Dengan serta-merta mereka mengirimkan surat   yang memberitahukan akan hal tersebut kepada Heraklius, raja Romawi yang   berada di Himsh (sekarang dikenal dengan Homs -red). Dia pun   melayangkan surat balasan yang berbunyi, “Celaka kalian! Sesungguhnya   mereka adalah pemeluk agama baru. Tidak ada yang bisa mengalahkan   mereka. Patuhilah aku, dan berdamailah dengan menyerahkan setengah   penghasilan bumi Syam! Bukankah kalian masih memiliki pegunungan   Romawi?! Jika kalian tidak mematuhi perintahku, niscaya mereka akan   merampas negeri Syam dan akan memojokkan kalian hingga terjepit di   pegunungan Romawi.”</p>
<p>Tatkala telah mendapatkan surat balasan seperti ini, mereka (tentara   Romawi) tidak mau menerima saran tersebut. Akhirnya, mau tidak mau Raja   Heraklius mengirim pasukan dalam jumlah yang besar. Pasukan Romawi  mulai  bergerak, dan berhenti di lembah Al-Waqusah, di samping sungai  Yarmuk  yang berdataran rendah dan memiliki banyak jurang.</p>
<p><strong>Kedatangan Khalid bin Al-Walid  dari ‘Iraq</strong></p>
<p>Pasukan Islam yang berada di Syam segera meminta bantuan. Maka Abu   Bakr Ash-Shiddiq  memerintahkan Khalid bin Al-Walid  agar menarik diri   dari ‘Iraq untuk kemudian menuju Syam bersama bala tentaranya. Dengan   segera Khalid  menunjuk Al-Mutsanna bin Haritsah v sebagai penggantinya   di ‘Iraq. Kemudian beliau  bergerak cepat dengan membawa 9.500 personel   pasukan menuju Syam. Mereka melalui jalan-jalan yang tidak pernah   dilalui seorang pun sebelumnya, dengan menyeberangi padang pasir,   mendaki gunung, serta melewati lembah-lembah yang sangat gersang.</p>
<p><strong>Persiapan Pasukan Islam</strong></p>
<p>Abu Sufyan  mengusulkan, layaknya ahli strategi perang, agar pasukan   dibagi menjadi tiga formasi. Sepertiga bersiap-siap di depan pasukan   Romawi, sepertiga lainnya yang terdiri dari bagian perbekalan dan para   wanita agar berjalan, dan sepertiga yang tersisa dipimpin oleh Khalid    di posisi belakang. Jika musuh telah mencapai perkemahan wanita dan   perbekalan, Khalid  akan berpindah ke depan kaum wanita, sehingga mereka   dapat menyelamatkan diri di belakang pasukan Khalid bin Al-Walid .</p>
<p>Maka mereka pun segera merealisasikan usulan itu. Pasukan Islam mulai   berkumpul dan berhadapan dengan musuh pada awal bulan Jumadil Akhir   tahun 13 H.</p>
<p><strong>Strategi Pasukan Islam</strong></p>
<p>Pasukan Islam kala itu jumlahnya berkisar antara 36 ribu sampai   dengan 40 ribu personel tentara. Didalamnya terdapat seribu orang   shahabat Nabi  . Seratus orang dari mereka adalah para veteran perang   Badar. Abu ‘Ubaidah ibnul Jarrah (namanya Hanzholah bin Ath-Thufail)    memimpin posisi tengah pasukan. ‘Amru bin Al-’Ash  dan Syarahbil bin   Hasanah  memimpin sayap kanan pasukan. Sedangkan pemimpin sayap kiri   pasukan adalah Yazid bin Abi Sufyan (dia dikenal dengan sebutan Yazid   Al-Khoir).</p>
<p>Khalid  membawa kudanya ke arah Abu ‘Ubaidah  dan berkata, “Aku akan   memberikan usul.” Abu ‘Ubaidah  menjawab, “Katakanlah, aku akan   mendengar dan mematuhinya.” Khalid  kembali berkata, “Musuh pasti   menyiapkan pasukan besar untuk membobol pertahanan pasukan kita. Aku   khawatir pertahanan sayap kiri dan kanan akan kebobolan. Menurutku,   pasukan berkuda harus dibagi menjadi dua kelompok. Satu pasukan   ditempatkan di belakang sayap kanan, dan yang lain ditempatkan di   belakang sayap kiri. Apabila musuh berhasil menembus pertahanan sayap   kiri atau kanan, para pasukan berkuda berperan membantu mereka. Lalu   kita datang menyerbu dari belakang.” Abu ‘Ubaidah  berkomentar,   “Alangkah jitu usulmu itu!”</p>
<p>Khalid bin Al-Walid  pun memerintahkan agar Abu ‘Ubaidah ibnul   Jarrah  pindah ke posisi belakang. Hal ini agar jika ada tentara Islam   berlari mundur, ia akan malu saat melihatnya kemudian kembali ke kancah   pertempuran. Kemudian Khalid  menginstruksikan agar para wanita   bersiap-siap dengan pedang, pisau belati, dan tongkat. Khalid  berkata,   “Siapa saja yang kalian jumpai melarikan diri dari medan pertempuran,   bunuh dia!”</p>
<p><strong>Strategi Pasukan Romawi</strong></p>
<p>Setelah menerima bantuan personel dari pusat, pasukan Romawi maju   dengan kesombongan membawa 240 ribu personel. 80 ribu pasukan pejalan   kaki, 80 ribu pasukan berkuda, dan 80 ribu pasukan yang diikat dengan   rantai besi (setiap sepuluh tentara diikat menjadi satu agar tidak lari   dari peperangan).</p>
<p>Mereka bergerak hingga menutupi seluruh tempat yang ada seakan-akan   mereka adalah awan hitam. Mereka berteriak-teriak, mengangkat suara   tinggi-tinggi, sementara para pendeta, uskup, maupun pihak gereja   mengelilingi pasukan membacakan Injil sambil memotivasi mereka agar   gigih dalam berperang.</p>
<p>Pasukan lini depan dipimpin oleh Jarajah (George), sayap kiri dan   kanan dipimpin oleh Mahan dan Ad-Daraqus. Pasukan penyerang dipimpin   oleh Al-Qolqolan, menantu Heraklius. Adapun pimpinan tertinggi pasukan   ini adalah saudara kandung Heraklius yang bernama Tadzariq.</p>
<p><strong>Perundingan sebelum meletusnya Pertempuran</strong></p>
<p>Abu ‘Ubaidah dan Yazid bin Abi Sufyan maju ke arah pasukan Romawi   dengan membawa Dhirar bin Al-Azur, Al-Harits bin Hisyam dan Abu Jandal   bin Suhail  untuk bertemu dengan Tadzariq yang tengah duduk di dalam   tenda yang terbuat dari sutera.</p>
<p>Para shahabat  berkata, “Kami tidak dihalalkan memasuki tenda ini.”   Maka dibentangkanlah karpet dari sutera dan mereka dipersilahkan untuk   duduk di atasnya. Para shahabat  berkata, “Kami tidak diperbolehkan   duduk di atasnya.” Akhirnya Tadzariq duduk di tempat yang mereka   inginkan. Para shahabat  mendakwahinya agar masuk Islam, namun   perundingan ini berakhir tanpa hasil. Akhinya mereka pun kembali ke   barisan pasukan. Pemimpin sayap kiri Romawi yang bernama Mahan ingin   bertemu dengan Khalid bin Al-Walid  di antara dua pasukan yang saling   berhadapan. Mahan berkata, “Kami mengetahui bahwa kemiskinan dan   kelaparanlah yang mengeluarkan kalian dari negeri kalian. Maukah kalian   jika aku beri sepuluh dinar untuk setiap tentara beserta makanan dan   pakaian, lalu kalian pulang ke negeri kalian? Dan pada tahun depan aku   akan memberikan jatah yang serupa?”</p>
<p>Khalid bin Al-Walid  menjawab, “Sesungguhnya, bukanlah yang   mengeluarkan kami dari negeri kami apa yang engkau sebutkan tadi. Tetapi   sebenarnya kami adalah sekelompok manusia peminum darah. Dan telah   sampai berita kepada kami bahwa tidak ada darah yang lebih segar   daripada darah kalian, bangsa Romawi. Untuk itulah kami datang kesini!”   Mendengar jawaban itu para sahabat Mahan berucap, “Demi Allah, ucapan   tersebut baru pertama kali kita dengar dari bangsa ‘Arab.”</p>
<p><strong>Jalannya Pertempuran</strong></p>
<p>Pasukan Romawi pada perang ini keluar dalam jumlah besar yang tidak   pernah terjadi sebelumnya. Khalid  juga membawa pasukan besar yang tidak   pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah ‘Arab. Tatkala persiapan sudah   matang, Khalid  memerintahkan untuk memulai dengan perang tanding.   Mulailah para jagoan Islam di tiap pasukan maju hingga membuat suasana   memanas. Sementara Khalid  berdiri menyaksikan laga tersebut.</p>
<p>Ditengah suasana yang sudah memanas, pemimpin pasukan lini depan   Romawi yang bernama Jarajah ingin bertemu dengan Khalid  di tengah dua   pasukan. Ia bertanya mengenai agama Islam, maka Khalid  memberitahukan   dakwah Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad. Akhirnya, Jarajah masuk   Islam, membalikkan sisi perisainya dan masuk ke dalam barisan pasukan   Islam.</p>
<p>Melihat pembelotan Jarajah, pasukan Romawi menyerbu ke barisan kaum   muslimin. Mahan memerintahkan pasukan sayap kanan menyerang menerobos   pertahanan sayap kanan pasukan Islam. Kaum muslimin tetap tegar berjuang   di bawah panji-panji mereka, hingga berhasil membendung serangan  musuh.</p>
<p>Setelah itu, pasukan besar Romawi datang lagi bak gunung besar yang   berhasil memporak-porandakan pasukan sayap kanan, hingga pasukan Islam   beralih ke tengah. Tak lama kemudian, mereka saling memanggil agar   kembali ke medan laga hingga berhasil memukul mundur kembali. Adapun   para wanita, tatkala melihat ada tentara Islam yang lari mundur, mereka   segera memukulinya dengan kayu, atau melemparinya dengan batu sehingga   tentara tersebut kembali ke kancah peperangan.</p>
<p>Kemudian Khalid  beserta pasukannya yang berada di sayap kiri   menerobos ke sayap kanan yang kebobolan diserang musuh, hingga berhasil   membunuh enam ribu tentara Romawi. Lalu Khalid  membawa seratus pasukan   berkuda menghadapi seratus ribu tentara Romawi hingga berhasil   meluluhlantakkan pasukan musuh.</p>
<p>Pada hari itu, begitu terlihat kegigihan, kesabaran, dan kepahlawanan   tentara-tentara Islam hingga pasukan Romawi berputar-putar seperti   penumbuk gandum. Mereka tidak melihat, pada perang itu, melainkan   kepala-kepala yang berterbangan, tangan-tangan maupun jari-jari yang   terpotong, serta semburan darah yang membasahi medan laga.</p>
<p>Ketika itulah, seluruh pasukan Islam menyerbu dengan serentak, untuk   kemudian dengan leluasa menghabisi musuh tanpa ada perlawanan sedikit   pun. Jarajah pun akhirnya terluka parah dan meninggal dunia. Padahal   beliau belum pernah shalat sekalipun, kecuali dua raka’at yang   dikerjakan (diajarkan) oleh Khalid  ketika baru/awal masuk Islam.</p>
<p>Peperangan ini berawal dari siang hingga malam, sampai kemenangan   diraih oleh Islam dan kaum muslimin. Malam itu, pasukan Romawi berlari   dalam kegelapan. Adapun pasukan Romawi yang diikat rantai besi, jika   salah seorang dari mereka terjatuh, maka terjatuhlah seluruhnya. Malam   itu, Khalid  bermalam di kemah Tadzariq, pimpinan tertinggi pasukan   Romawi.</p>
<p>Pasukan berkuda berkumpul di sekitar kemah Khalid  menunggu tentara   Romawi yang lewat untuk dibunuh hingga waktu pagi tiba. Tadzariq pun   terbunuh. Telah terbunuh pada hari itu 120.000 lebih pasukan Romawi.   Adapun tentara Islam yang gugur di medan perang sebanyak tiga ribu   pasukan. Kaum muslimin mendapat harta pampasan yang begitu banyak pada   perang ini.</p>
<p>Demikianlah, kejayaan yang diraih oleh umat Islam tatkala mereka   kokoh diatas kemurnian ibadah kepada Allah  dan berpegang teguh kepada   sunnah (ajaran) Rasul-Nya . Sebagaimana firman Allah  (yang artinya):</p>
<p><em>“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di   antara kamu dan mengerjakan amal-amal sholih bahwa Dia sungguh-sungguh   akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah   menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan   meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan   Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam   ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada   mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap)   kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” </em>(<strong>An-Nur:   55</strong>)</p>
<p><strong><em>Wallahu a’lam bish showab.</em></strong></p>
<p><strong>Sumber: http://www.buletin-alilmu.com/?p=229</strong></p>
<br />Filed under: <a href='http://dakwahhikmah.wordpress.com/category/siroh/'>Siroh</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dakwahhikmah.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dakwahhikmah.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dakwahhikmah.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dakwahhikmah.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dakwahhikmah.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dakwahhikmah.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dakwahhikmah.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dakwahhikmah.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dakwahhikmah.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dakwahhikmah.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dakwahhikmah.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dakwahhikmah.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dakwahhikmah.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dakwahhikmah.wordpress.com/85/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dakwahhikmah.wordpress.com&amp;blog=3424333&amp;post=85&amp;subd=dakwahhikmah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dakwahhikmah.wordpress.com/2010/04/23/kilas-balik-dari-kisah-perang-yarmuk/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:thumbnail url="http://dakwahhikmah.files.wordpress.com/2010/04/02d330d7e4041deb65e194cbb795_grande.jpg?w=150" />
		<media:content url="http://dakwahhikmah.files.wordpress.com/2010/04/02d330d7e4041deb65e194cbb795_grande.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">Benteng Romawi</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1d1cf41d60cc8597df8834fb87f9edad?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dakwahhikmah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Semangat Salaf dalam Menuntut Ilmu</title>
		<link>http://dakwahhikmah.wordpress.com/2010/04/21/semangat-salaf-dalam-menuntut-ilmu/</link>
		<comments>http://dakwahhikmah.wordpress.com/2010/04/21/semangat-salaf-dalam-menuntut-ilmu/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Apr 2010 09:58:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dakwah Hikmah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj dan Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[sunnah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dakwahhikmah.wordpress.com/?p=82</guid>
		<description><![CDATA[Semangat Salaf dalam Menuntut Ilmu Muhadharah Asy-Syaikh ‘Abdurrahman bin ‘Umar Al-‘Adani hafizhahullah. إن الحمد لله نحمده تعالى ونستعينه ونستغفره ، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا ، من يهديه الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له ، واشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، واشهد أن محمد عبده &#8230; <a href="http://dakwahhikmah.wordpress.com/2010/04/21/semangat-salaf-dalam-menuntut-ilmu/">Continue reading <span class="meta-nav">&#187;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dakwahhikmah.wordpress.com&amp;blog=3424333&amp;post=82&amp;subd=dakwahhikmah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2 style="text-align:center;"><strong>Semangat  Salaf dalam Menuntut Ilmu</strong></h2>
<p>Muhadharah Asy-Syaikh ‘Abdurrahman bin ‘Umar Al-‘Adani <em>hafizhahullah</em>.</p>
<p style="text-align:right;">إن الحمد لله نحمده تعالى ونستعينه ونستغفره ،  ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا ، من يهديه الله فلا مضل له  ومن يضلل فلا هادي له ، واشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، واشهد  أن محمد عبده ورسوله</p>
<p><span id="more-82"></span></p>
<p style="text-align:right;">يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا  اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ &#8211;  آل عمران / 102 -</p>
<p style="text-align:right;">يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ  الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا  وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي  تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ  رَقِيبًا &#8211; النساء / 1 -</p>
<p style="text-align:right;">يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا  اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ  وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ  فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا &#8211; الأحزاب / 70، 71 -</p>
<p style="text-align:right;">أما بعد ، فان اصدق الحديث كتاب الله تعالى ،  وخير الهدي هدي محمد صلى الله عليه وعلى آله وسلم ، وشر الأمور محدثاتها  وكل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة وكل ضلالة في النار</p>
<p>Wahai saudaraku di jalan Allah Ta’ala,</p>
<p>Pertama kita hendaknya memuji Allah ‘Azza wa Jalla yang telah  memudahkan kita untuk berkunjung kepada saudara kami -hafizhahumullah-  dari para masyayikh, penuntut ilmu dan ikhwah secara umum di ma’had yang  penuh barakah ini. Dan kita memohon kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar  menjadikan kita dan ikhwah semuanya termasuk orang saling mengunjungi  saudaranya karena Allah Ta’ala, berhubungan karenaNya dan saling  mencintai karenaNya Ta’ala. Maka ini merupaka nikmat yang sangat besar  dan agung yang Allah Ta’ala anugerahkan kepada umat islam dan kepada  ahlus sunnah, bahwa tidaklah mereka saling berhubungan dan saling  mencintai kecuali karena Allah Ta’ala. Dan Nabi Shallallahu ‘alihi wa  salam bersabda sebagaimana diriwayatkan An-Nasa’i dan Abu Ya’la dari Abu  Hurairah -radhiyallahu ‘anhu-;</p>
<p style="text-align:right;">إن من عباد الله عبادًا يغبطهم الأنبياء  والشهداء ، ليسوا بأنبياء ولا شهداء ، قالوا صفهم لنا يا رسول الله لعلنا  نحبهم ، قال : هم قوم تحابوا من غير أرحام ولا انساب ، وجوههم من نور على  منابر من نور لا يخافون يوم يخاف الناس ولا يحزنون يوم يحزن الناس ، ثم تلى  النبي صلى الله عليه وعلى آله وسلم قول الله عز وجل : أَلَا إِنَّ  أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ  الَّذِينَ آَمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ. &#8211; يونس / 62، 63 -</p>
<p><em>“Sesungguhnya dari hamba Allah ada hamba-hamba yang ingin keadaan  mereka seperti para nabi dan syuhada’, dan mereka bukan para nabi dan  syuhada’. Mereka berkata: “Sebutkan cirri-cirinya kepada kami wahai  Rasulullah”. Beliau berkata: “Mereka adalah suatu kaum yang saling  mencintai bukan karena hubungan rahim bukan pula nasab, wajah-wajah  mereka dari cahaya di atas mimbar-mimbar dari cahaya, mereka tidak takut  pada hari yang manusia merasa takut, mereka tidak sedih pada hari yang  manusia merasa sedih”. Kemudian beliau membaca firman Allah Ta’ala:  “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada ketakutan atas  mereka dan tidak pula mereka bersedih, mereka adalah orang-orang yang  beriman dan mereka bertakwa.”</em></p>
<p>Kemudian kita juga berterima kasih kepada Fadhilah Asy-Syaikh Abu  Nashr<em> </em>Muhammad Al-Imam -hafizhahullah ta’ala- semoga Allah  Ta’ala memberikan barakah pada beliau, pada ilmunya, perjuangannya,  keluarganya dan anak-anaknya. <em> </em></p>
<p>Dan kita memohon kepada Allah -tabaraka wa ta’ala- agar menjadikan  kita dan sekalian ikhwah kita termasuk penolong al-haq dan penyeru  kepada petunjuk. Dan kita berterima kasih kepada beliau akan kunjungan  beliau saudara beliau dan anak didik beliau. Maka kita memohon kepada  Allah Ta’ala agar membalas beliau dengan sebaik-baik balasan.</p>
<p>Wahai sekalian ikhwah fillah,</p>
<p>Pada kesempatan ini kami mengingatkan diri-diri kami dan segenap  ikhwah dengan besarnya nikmat Allah ‘Azza wa Jalla kepada kita, yang  mana Allah telah menunjuki kita kepada agamaNya dan memberikat kita  taufiq kepada sunnah Rasulillah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa salam.  Maka ini merupakan seutama-utama nikmat yang dianugerahkan Allah Ta’ala  kepada kepada hamba-hambaNya yang muslim, yaitu menunjuki mereka  agamaNya dan menjadikan mereka termasuk pengikut RasulNya Muhammad  Shallalllahu ‘alaihi wa salam. Allah Ta’ala menutup nikmat ini dari  sekian banyak orang dan dari jutaan manusia, mereka tidak mendapatkan  taufiq untuk merengkuhnya dan tidak menunjuki mereka untuk meniti  jalannya, kemudia Allah Ta’ala memilihmu dan mengutamakanmu sehingga  engkau menjadi hambaNya yang shalih. Dan Allah Ta’ala mengingatkan kita  dalam kitabNya Al-Karim dengan kebaikan dan keutamaan ini, Allah Ta’ala  berfirman;</p>
<p style="text-align:right;">وَاذْكُرُوا إِذْ أَنْتُمْ قَلِيلٌ مُسْتَضْعَفُونَ فِي  الْأَرْضِ تَخَافُونَ أَنْ يَتَخَطَّفَكُمُ النَّاسُ فَآَوَاكُمْ  وَأَيَّدَكُمْ بِنَصْرِهِ وَرَزَقَكُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ لَعَلَّكُمْ  تَشْكُرُونَ. &#8211; الأنفال / 26 -</p>
<p><em>“Dan ingatlah disaat kalian berjumlah sedikit lagi lemah di muka  bumi, kalian takut akan disambar oleh manusia lalu Allah melindungi  kalian dan mengkokohkan kalian dengan pertolonganNya dan Allah  merizkikan kepada kalian perkara-perkara yang baik agar kalian  bersyukur.” Al-Anfal: 26</em></p>
<p>Qatadah -rahimahullah- berkata: “Dahulu masyarakat Arab ini merupakan  masyarakat yang paling hina, paling sulit kehidupannya, paling lapar  perutnya, paling telanjang kulitnya dan paling jelaas kesesatannya,  siapa yang hidup dari mereka hidup dalam kekerasan, siapa yang mati dari  mereka dihempaskan dalam neraka sampai Allah mendatangkan islam, maka  Allah Ta’ala mengokohkan mereka dengannya di semua negeri, meluaskan  rizki bagi mereka dengannya, dan Allah Ta’ala menjadikan mereka penguasa  di atas sekalian manusia”.</p>
<p>Kita harus memuji Allah Ta’ala atas semua itu, umat ini tidak  memiliki nilai dan harga di tengah-tengah umat yang lain. Maka ketika  Allah Ta’ala menginginkan untuk meninggikan kalimatnya dan mengangkat  kepalanya Allah Ta’ala mengutus kepadanya rasul yang membawa petunjuk  yaitu Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasalam.</p>
<p style="text-align:right;">لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ  إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ  آَيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ  كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ. &#8211; آل عمران / 164 -</p>
<p><em>“Sungguh Allah telah menganugerahkan kepada kaum mukminin ketika  Allah mengutus pada mereka seorang rasul dari diri mereka, yang  membacakan kepada mereka ayat-ayatNya, membersihkan jiwa mereka dan  mengajarkan kepada mereka al-kitab dan al-hikmah. Meskipun mereka  sebelum itu benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” Ali-’Imran: 164</em></p>
<p>“Kesesatan yang nyata” berupa kesesatan kesyirikan, khurafat dan  kebid’ahan. Maka Allah Ta’ala menyelamatkan mereka dengan nabiNya  Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa salam. Allah Ta’ala menyatukan mereka  dengannya setelah terjadi perpecahan memuliakan mereka dengannya setelah  kehinaan, mengkayakan mereka setelah kemiskinan dan menunjuki mereka  dengannya setelah tersungkur dalam kesesatan, kekufuran dan  penyimpangan. Maka ini adalah nikmat yang besar yang Allah Ta’ala  anugerahkan kepada kita. Tidaklah berlangsung kecuali beberapa saat dan  sedikit tahun tiba-tiba dibukakan bagi umat ini negeri-negeri di bagian  timur dan barat. Jadilah ia sebaik-baik umat dan umat terkuat dan  termulia yang sebelumnya mereka hanyalah penggembala onta, sapid an  domba. Tidaklah ia kecuali saat yang sebentar jadilah mereka seperti  yang kalian dengar. Apa sebabnya? Sebabnya adalah agama ini (islam),  agama yang agung ini, agama yang penuh keutamaan dan kebaikan. Agama  yang di saat salaf shalih berpegang teguh dengannya Allah Ta’ala  memuliakan mereka dan mengangkat derajat dan kemuliannya.</p>
<p>Demikian pula umat yang sekarang jika mereka kembali kepada agama  mereka dan berpegang teguh dengan kitab Rabbnya dan sunnah nabinya  Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa salam niscaya akan terwujud bagi mereka  apa yang Rabb mereka janjikan dalam kitabNya dan lisan nabiNya. Allah  Ta’ala mengabarkan dalam kitabNya bahwa masa depan adalah bagi agama ini  dan kesudahan yang baik adalah bagi hambaNya yang bertakwa sebagaimana  Allah Ta’ala firmankan;</p>
<p style="text-align:right;">هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ  بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ  كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ. &#8211; التوبة / 33 -</p>
<p><em>“Dialah yang mengutus rasulNya dengan petunjuk dan agama yang  benar agar Dia menampakan agama ini atas sekalian agama, meskipun  orang-orang musyrik itu tidak suka.” At-Taubah: 33</em></p>
<p>Demikian juga Allah Ta’ala berfirman;</p>
<p style="text-align:right;">وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا  مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ  كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ  دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ  خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ  كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ. &#8211; النور / 55 -</p>
<p><em>“Allah telah menjajikan bagi orang-orang yang beriman dari kalian  dan beramal shalih bahwa Allah akan benar-benar menguasakan mereka di  muka bumi sebagaimana Allah telah menguasakan umat sebelum mereka, dan  Allah akan benarbenar mengkokohkan agama mereka yang Dia telah ridhai  bagi mereka, dan Allah benar-benar akan menggantikan bagi mereka  ketakukan menjadi rasa aman, (jika) mereka beribadah kepadaku dan tidak  menyekutukan aku dengan sesuatupun. Dan siapa yang kufur setelah itu  maka mereka itulah orang yang fasiq.” An-Nur: 55</em></p>
<p>Dan Allah Ta’ala berfirman;</p>
<p style="text-align:right;">وَلَيَنْصُرَنَّ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ  إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ. &#8211; الحج / 40 -</p>
<p><em>“Dan Allah benar-benar akan menolong orang yang menolongNya.  Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” Al-Haj: 40</em></p>
<p>Dan Allah Ta’ala berfirman;</p>
<p style="text-align:right;">يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنْ  تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ. &#8211; محمد / 7 -</p>
<p><em>“Wahai oang-orang yang beriman, jika kalian menolong Allah maka  Allah akan menolong kalian dan mengkokohkan kaki-kai kalian.” Muhammad: 7</em></p>
<p>Demikian pula janji yang ada dalam sunnah Rasulullah Shallallahu  ‘alaihi wa salam.<em> </em>Disebutkan dalam Shahih Muslim dari hadits  Tsauban radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi<em> </em>Shallallahu ‘alaihi wa  salam bersabda;</p>
<p style="text-align:right;">إِنَّ اللهَ زَوَى لِي الْأَرْضَ  فَرَأَيْتُ مَشَارِقَهَا وَمَغَارِبَهَا وَإِنَّ أُمَّتِي سَيَبْلُغُ  مُلْكُهَا مَا زُوِيَ لِي مِنْهَا</p>
<p><em>“Sesungguhnya Allah mengumpulkan bagiku bumi ini maka aku bias  melihat bagian timur dan baratnya, dan sesungguhnya umatku akan sampai  kekuasaannya pada apa yang dikumpulkan bagiku darinya.”</em></p>
<p>Kalau begitu, agama ini akan sampai kepada setiap tempat, memasuki  setiap rumah<em> </em>sebagaimana dalam hadits Tamim Ad-Dary yang  diriwayatkan oleh Ahmad dari Nabi<em> </em>Shallallahu ‘alaihi wa salam;</p>
<p style="text-align:right;">لَيَبْلُغَنَّ هَذَا الأَمْرُ مَا بَلَغَ  اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَلاَ يَتْرُكُ اللهُ بَيْتَ مَدَرٍ وَلاَ وَبَرٍ  إِلاَّ أَدْخَلَهُ اللهُ هَذَا الدِّيْنَ بِعِزِّ عَزِيْزٍ أَوْ بِذُلِّ  ذَلِيْلٍ عِزًّا يُعِزُّ اللهُ بِهِ الإِسْلَامَ وَذُلا يُذِلُّ اللهُ بِهِ  الْكُفْرَ<em></em></p>
<p><em>“Benar-benar perkara ini akan sampai pada apa yang malam dan  siang sampai padanya. Dan Allah tidak akan meninggalkan rumah perkotaan  dan tidak pula pedesaan kecuali Allah memasukkan padanya agama ini  dengan membawa kemuliaan bagi orang mulia dan membawa kehinaan bagi  orang yang hina. Kemuliaan yang dengannya Allah memuliakan islam dan  kehinaan yang dengannya Allah menghinakan kekufuran.” </em></p>
<p>Allah Ta’ala tidaklah meninggalkan sebuah rumahpun, sama saja dari  tanah liat, atau<em> </em>dari batu, atau dari kayu, atau dari bulu onta  kecuali Allah Ta’ala memasukkan padanya agama ini. Akan tetapi  sebagaimana diketahui bahwa janji ini tidak akan terwujud kecuali jika  umat ini kembali kepada agamanya, pemimpinnya, rakyatnya, masyarakatnya,  keluarganya dan individunya. Allah Ta’ala tidaklah menghadiahkan  pertolongan ini kecuali pada orang yang berhak menerimanya. Dan orang  yang berhak atsanya adalah orang yang istiqamah di atas agamaNya dan  syari’atNya, dan mereka berpegang teguh dengan kitabNya dan sunnah  NabiNya Shallallahu ‘alaihi wa salam dalam seluruh perkara kehidupannya.  Dalam perkara keyakinan, ibadah, mu’amalah, adab, akhlak, cara hidup,  jalan hidup, dakawah dan juga dalam perkara pendidikan. Mereka itulah  orang yang dicalonkan dan pantas mendapatkan pertolongan Allah Ta’ala.</p>
<p>Dan ini sebagaimana juga diketahui, tidak mungkin terwujud kecuali  jika ditemukan pada umat ini ukuran yang cukup dari kalangan ulama yang  rabbany, ulama yang dalam ilmunya pemilik pandangan yang lurus, pemilik  sifat wara’, zuhud dan pengalaman, yang mampu membedakan antara  kemaslahatan dan kerusakan, membedakan antara manfaat dan madharat. Jika  ada orang seperti mereka itu yang membimbing umat berdasarkan al-kitab  dan as-sunnah dan mengembalikan umat kepada agama yang agung ini dan  bias membawa umat untuk berpegang teguh dengan sunnah nabi pilihan  Shallallahu ‘alaihi wa salam, maka diharapkan setelah itu akan terwujud  pada mereka pertolongan Allah Ta’ala yang Allah ta’ala janjikan bagi  mereka dalam kitabNya dan lisan RasulNya Shallallahu ‘alaihi wa salam.</p>
<p>Dan ini sebagaimana diketahui juga menuntut dari umat ini adanya  perhatian dan semangat, penyempatan dan pengorbanan dalam meraih ilmu  yang bermanfaat ini, juga dalam menyebarkan ilmu yang bermanfaat ini ke  tengah-tengah masyarakat kaum muslimin. Memenuhi kesempatan manusia dan  pikira mereka. Yang mana dengannyaa umat akan membedakan mana petunjuk  dan mana kesesatan, membedakan antara kesyirikan dan tauhid, antara  sunnah dan bid’ah, antara manfaat dan madharat, antara penyimpangan dan  petunjuk. Maka harus ada kadar ulama yang seperti ini ….</p>
<p>Bersambung edisi berikutnya</p>
<p>Wallahu a’lam bi shawab.</p>
<p><strong>Ma’bar 20/04/1431 H, dikirim via e-mail oleh Al-Akh ‘Umar  Al-Indun</strong></p>
<br />Filed under: <a href='http://dakwahhikmah.wordpress.com/category/manhaj-dan-dakwah/'>Manhaj dan Dakwah</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dakwahhikmah.wordpress.com/82/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dakwahhikmah.wordpress.com/82/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dakwahhikmah.wordpress.com/82/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dakwahhikmah.wordpress.com/82/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dakwahhikmah.wordpress.com/82/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dakwahhikmah.wordpress.com/82/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dakwahhikmah.wordpress.com/82/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dakwahhikmah.wordpress.com/82/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dakwahhikmah.wordpress.com/82/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dakwahhikmah.wordpress.com/82/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dakwahhikmah.wordpress.com/82/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dakwahhikmah.wordpress.com/82/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dakwahhikmah.wordpress.com/82/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dakwahhikmah.wordpress.com/82/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dakwahhikmah.wordpress.com&amp;blog=3424333&amp;post=82&amp;subd=dakwahhikmah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dakwahhikmah.wordpress.com/2010/04/21/semangat-salaf-dalam-menuntut-ilmu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1d1cf41d60cc8597df8834fb87f9edad?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dakwahhikmah</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
